Selasa, 20 September 2011

Ghirah menurut Buya HAMKA

*Ghirah*

*Akmal Sjafril*

assalaamu'alaikum wr. wb.

Dahulu, Buya Hamka menjelaskan ghirah dengan suatu istilah yang sederhana:
cemburu. Ghirah adalah kecemburuan dalam beragama. Cemburu itu bukan sekedar
marah atau kesal atau jengkel, melainkan perasaan tidak rela karena haknya
direnggut dan berhasrat besar untuk merebut haknya kembali. Kalau tak ingin
merebut kembali, bukan cemburu namanya. Itulah sebabnya orang bilang cemburu
adalah tanda cinta, dan tidak ada cinta tanpa rasa cemburu. Nah, yang
disebut ghirah itulah perasaan memiliki / mencintai agama secara mendalam
yang kemudian terwujud dalam pembelaan yang kuat ketika agamanya dihinakan
orang.

Buya Hamka mengambil sebuah perspektif yang menarik ketika bercerita tentang
ghirah. Sementara pada masanya orang banyak mengelu-elukan Mahatma Gandhi,
beliau justru mengingatkan semua orang bahwa Gandhi adalah tokoh yang anti
Islam, dan kita sebagai Muslim tidak sepatutnya melupakan hal itu.

Dalam tulisan-tulisan atau ucapan-ucapannya, Gandhi senantiasa menampilkan
sosok yang bersahaja, santun dan toleran, bahkan kontradiktif dalam beberapa
hal. Sebagai contoh, ia mengatakan bahwa ia menghormati semua agama
sebagaimana agamanya sendiri, walaupun ia merasa bahwa agamanyalah yang
paling tinggi. Di tempat lain, ia mengatakan bahwa di atas agama-agama ada
pula ‘Agama’ (dengan ‘A’ besar) yang mengatasi semua agama itu, yang
bersemayam di hati seluruh manusia, apa pun agama formalnya. Kali lain, ia
berkata pula bahwa semua agama itu benar, dan semua agama itu juga salah.

Kontradiksi Gandhi dalam menyikapi agama-agama diberi catatan tersendiri
oleh Hamka. Di satu sisi, Gandhi selalu mengatakan bahwa semua agama
sama-sama mulia, sama-sama mengajarkan kebaikan, sama-sama mengantar kita ke
surga. Namun ketika orang-orang dekatnya memutuskan untuk memeluk agama
Islam, ia melakukan suatu hal yang dikenal luas sebagai ciri khasnya
sendiri: mogok makan! Sayangnya, sebagian dari orang-orang terdekatnya itu
tidak tega dan akhirnya kembali ke agama asalnya.

Meskipun muncul dalam sebuah prilaku yang hipokrit dari pribadi seorang
Gandhi, ghirah adalah suatu hal yang fitrah. Cemburu memang fitrah; semua
manusia merasakannya. Anak kecil pun akan menangis jika mainannya direnggut
paksa. Orang dewasa apalagi, karena mereka sudah menyelami seluk-beluk cinta
dalam hatinya sendiri.

Catatan lain yang diberikan oleh Buya Hamka seputar ghirah adalah betapa
ghirah ini menjadi suatu hal yang paling menakutkan bagi kaum penjajah
dahulu. Mereka terheran-heran menyaksikan bangsa yang cuma punya rencong
atau keris di tangan namun bisa tampil begitu gagah di hadapan bedil yang
terkokang hanya karena satu kalimat takbir. Mereka tidak habis pikir mengapa
masih ada saja bangsa yang siap mati bersimbah darah membela agamanya,
karena agama memang sudah sejak lama mati di Eropa.

Jangankan soal agama, soal perempuan saja umat Islam itu begitu besar rasa
cemburunya. Pernah ada seorang perempuan yang diam-diam dipacari oleh lawan
jenisnya. Pada masa itu, berpacaran dengan perempuan, apalagi backstreet,
adalah penghinaan yang serius terhadap keluarganya. Kakak lelakinya pun
bertindak membela kehormatan keluarga. Ditikamlah lelaki tak berbudi tadi,
matilah dia.

Sudah barang tentu, hukum sekuler yang diterapkan oleh pemerintah kolonial
Belanda pada masa itu mengharuskan sang kakak lelaki menjalani
bertahun-tahun hukuman di penjara. Dalam logika kaum sekuler, habislah sudah
keluarga itu; anak perempuannya terhina, anak lelakinya dipenjara. Apa
dinyana, setelah belasan tahun dipenjara, ia malah dijemput oleh seluruh
keluarga dan sanak saudaranya layaknya rombongan yang mengantar jemaah pergi
berhaji. Shalawat dialunkan, tangis haru berderai, ia disambut bagai
pahlawan. Tidak peduli apa kata Belanda; di mata keluarganya, sang pemuda
adalah pembela kehormatan mereka.

Menghadapi bangsa yang ghirah-nya menyala hebat adalah persoalan yang runyam
buat Belanda. Ingat Bandung Lautan Api? Banyak orang hanya ingat lagunya,
namun kurang menghayati sedahsyat apa kejadian itu sebenarnya. Bukan 1-2
bangunan dibakar, melainkan hampir seisi kota. Jika Bandung dibakar sebagai
bagian dari teror penjajah terhadap rakyat, maka akal kita masih bisa
mencernanya dengan mudah. Namun sebenarnya kota itu justru dibakar oleh
warganya sendiri. Apa sebab? Karena lebih baik dibumihanguskan daripada
dinikmati tuan-tuan penjajah!

Betapa runyam urusan kaum Zionis di tanah Palestina, lantaran putri-putri
Al-Quds memiliki ghirah yang sangat tinggi. Lebih baik mati semua daripada
Masjidil Aqsha dinistakan. Lebih baik suami pulang menjadi mayat daripada
harus mengalah pada bangsa penjahat. Ada ibu yang dikaruniai keturunan yang
banyak, namun satu persatu menjemput syahid, dan itulah hal yang membuatnya
tetap hidup dengan kepala tegak penuh kebanggaan; rahimnya telah melahirkan
para penghuni surga!

Sebagai bagian dari strategi penjajahan, umat Islam di mana-mana ditekan
agar tidak pernah mengobarkan ghirah-nya lagi. Jangan pernah marah lagi jika
agamanya dihina. Jangan pernah cemburu lagi jika kehormatannya direnggut.
Karikatur Rasulullah saw dibuat dengan nuansa penghinaan yang begitu kental,
dan kita tidak boleh marah. Jika Yesus saja sudah dijadikan komoditi humor,
mengapa Muhammad saw tidak boleh? Mereka mengharapkan umat Islam akan
kehilangan ghirah sebagaimana mereka telah kehilangan ghirah-nya
berabad-abad yang lampau. Mereka ingin umat Islam tidak lagi cinta pada
agamanya sendiri, sebagaimana mereka sendiri telah mencampakkan rasa cinta
pada agamanya entah berapa abad yang lalu.

wassalaamu'alaikum wr. wb.

Artikel ini telah dimuat di situs Fimadani, http://www.fimadani.com/ghirah.

Tidak ada komentar: