Sabtu, 09 September 2023

Pembahasan Ayat Al Qur'an Per Kata, Al Faatihah [2]

 Pembahasan Surat ke-1: 

Surat Al Faatihah, Ayat ke-1, Kalimah ke-2

بِسْمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحْمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ

ٱلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلْعَٰلَمِينَ

ٱلرَّحْمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ

مَٰلِكِ يَوْمِ ٱلدِّينِ

إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ

ٱهْدِنَا ٱلصِّرَٰطَ ٱلْمُسْتَقِيمَ

صِرَٰطَ ٱلَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ ٱلْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا ٱلضَّآلِّينَ


Bismillāhir-raḥmānir-raḥīm, al-ḥamdu lillāhi rabbil-‘ālamīn, ar-raḥmānir-raḥīm, māliki yaumid-dīn, iyyāka na’budu wa iyyāka nasta’īn, ihdinaṣ-ṣirāṭal-mustaqīm, ṣirāṭallażīna an’amta ‘alaihim gairil-magḍụbi ‘alaihim wa laḍ-ḍāllīn.


Artinya:   

1. Dengan menyebut nama Allah :    بِسْمِ ٱللَّهِ         

    Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang :    ٱلرَّحْمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ

2. Segala puji bagi Allah :    ٱلْحَمْدُ لِلَّهِ 

    Tuhan semesta alam :    رَبِّ ٱلْعَٰلَمِينَ

3. Maha Pemurah lagi Maha Penyayang :   ٱلرَّحْمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ

4. Yang menguasai di Hari Pembalasan :   مَٰلِكِ يَوْمِ ٱلدِّينِ

5. Hanya Engkaulah yang kami sembah :   إِيَّاكَ نَعْبُدُ 

    dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan :   وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ

6. Tunjukilah kami jalan yang lurus :   ٱهْدِنَا ٱلصِّرَٰطَ ٱلْمُسْتَقِيمَ

7. (yaitu) Jalan orang-orang yang :   صِرَٰطَ ٱلَّذِينَ

    telah Engkau beri nikmat kepada mereka :   أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ

    bukan (jalan) mereka yang dimurkai :   غَيْرِ ٱلْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ

    dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat :   وَلَا ٱلضَّآلِّينَ


Pembahasan Kata


 الله

Di dalam Al Qur'an, berdasarkan akar katanya (أله) 

- terdapat 2699 kali yang berasal dari kata الله, 
- terdapat 147 kali yang berasal dari kata إِلٰه dan 
- terdapat 5 kali yang berasal dari kata ٱللَّهُمَّ


Ahli nahwu sharaf abad ke-3 Hijriah, Imam Abul Baqa' Al-Ukbari (Iraq, 757-760M) menerangkan bahwa asal kata الله adalah الإلاه (al-ilah) atau kalau diuraikan menjadi
‎ ( ا ل إ ل ا ه ) 
Kemudian huruf hamzah dibuang, 
‎( ا ل ل ا ه )
lam pertama disukunkan 
‎( ا لْ ل ا ه )
dan digabung dengan lam kedua
‎( ا لّ ا ه )
....

Kalau dirangkai kembali akan menjadi الّاه dimana alif (ا) kedua dapat ditulis menjadi alif khanjariiya ( –ٰ– ) sehingga menjadi الله

Tapi para ulama banyak yang tidak mau 'mengutak ngatik' asal kata Allah ini karena tidak 'etis'. Para Ulama menyarankan untuk mengucapkan لَفْظُ الْجَلالَة (lafadz Al-Jalaalah) sebagai pengganti "kata Allah".

Lafadz Al-Jalaalah اللهِ didalam ayat ini menjadi kasrah ( ـهِ ) dikarenakan huruf jar ( بِ ) mengkasrahkan اسْمِ sementara lafadz al-Jalaalah اللهِ adalah objek dari اسْمِ sehingga juga ikut dikasrahkan oleh huruf jar ( بِ ). 

Lafazh Al-Jalaalah اللهِ menjadi kasrah diakhiran ( ـهِ ) karena mudhaf ilaih (ditambahkan setelahnya). Rangkaian dua buah Isim atau lebih, satu kata di depannya dalam keadaan Nakirah (tapi tanpa tanwin) dinamakan Mudhaf sedang kata yang paling belakang adalah Ma'rifah dinamakan Mudhaf ilaih.  



Semoga bermamfaat, wallahu a'lamu bishshawab.



https://alfaazha.blogspot.com/2016/01/q001002001-surat-al-fatihah-ayat.html

Pembahasan Ayat Al Qur'an Per Kata, Al Faatihah [1]

Pembahasan Surat ke-1: 

Surat Al Faatihah, Ayat ke-1, Kalimah ke-1



بِسْمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحْمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ

ٱلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلْعَٰلَمِينَ

ٱلرَّحْمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ

مَٰلِكِ يَوْمِ ٱلدِّينِ

إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ

ٱهْدِنَا ٱلصِّرَٰطَ ٱلْمُسْتَقِيمَ

صِرَٰطَ ٱلَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ ٱلْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا ٱلضَّآلِّينَ


Bismillāhir-raḥmānir-raḥīm, al-ḥamdu lillāhi rabbil-‘ālamīn, ar-raḥmānir-raḥīm, māliki yaumid-dīn, iyyāka na’budu wa iyyāka nasta’īn, ihdinaṣ-ṣirāṭal-mustaqīm, ṣirāṭallażīna an’amta ‘alaihim gairil-magḍụbi ‘alaihim wa laḍ-ḍāllīn.


Artinya:   

1. Dengan menyebut nama Allah :    بِسْمِ ٱللَّهِ         

    Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang :    ٱلرَّحْمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ

2. Segala puji bagi Allah :    ٱلْحَمْدُ لِلَّهِ 

    Tuhan semesta alam :    رَبِّ ٱلْعَٰلَمِينَ

3. Maha Pemurah lagi Maha Penyayang :   ٱلرَّحْمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ

4. Yang menguasai di Hari Pembalasan :   مَٰلِكِ يَوْمِ ٱلدِّينِ

5. Hanya Engkaulah yang kami sembah :   إِيَّاكَ نَعْبُدُ 

    dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan :   وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ

6. Tunjukilah kami jalan yang lurus :   ٱهْدِنَا ٱلصِّرَٰطَ ٱلْمُسْتَقِيمَ

7. (yaitu) Jalan orang-orang yang :   صِرَٰطَ ٱلَّذِينَ

    telah Engkau beri nikmat kepada mereka :   أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ

    bukan (jalan) mereka yang dimurkai :   غَيْرِ ٱلْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ

    dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat :   وَلَا ٱلضَّآلِّينَ


Pembahasan Kata


بِسْمِ

(bismi)

Artinya: dengan nama
Jenis kalimah: isim (إسم) adalah kata benda dan sifat. Definisi Ali RA bahwa isim adalah nama apapun. Kalau definisi pesantren (ilmu nahwu) bahwa isim adalah kalimah/t yang menunjukan makna mandiri dan tidak disertai dengan pengertian zaman (waktu).

Ada juga yang berpendapat bahwa kalimat بِسْمِ ini berjenis jar wa majrur (isim yang dikasrahkan oleh huruf jar).

Awalan1: بِ
Artinya: dengan
Jenis kalimah: huruf (حرف) adalah kata yang dipakai untuk melengkapi arti dari jenis kalimah/t lainnya (isim dan fi'il). Menurut Ali RA, huruf adalah kata imbuhan (particles) untuk melengkapi makna. Berdasarkan ilmu nahwu bahwa بِ ini adalah huruf jar yaitu huruf yang mengkasrahkan (–ِ–) harakat/baris dari kalimat berikutnya.

Jadi kata بِيْمِ terdiri dari dua (jenis) kalimat, yaitu بِ dan سْمِ. 

Kita sudah bahas kata pertama yaitu بِ sedangkan pembahasan kata ke-2 سْمِ  sbb:

Asal kalimah/t: ٱسْم
Artinya: nama
Jenis kalimah: isim

Akar kalimah/t atau jidzir dari kalimat ٱسْم sbb:

Akar kata: سمو atau  س م و  (siin miim waaw). Akar kata bahasa Arab sebagian besar (mungkin lebih dari 90%) terdiri dari tiga aksara atau huruf pembentuk kata. Biasanya akar kata ini dituliskan dalam bentuk lampau yang dilakukan orang ketiga laki-laki. Tetapi di kamus hanya di tuliskan tanpa "dia laki2 telah". Mayoritas 3-huruf pembentuk kata ini berharakat fathah, jadi akar kata سمو ini dapat ditulis menjadi سَمَوَ. 
Artinya: (dia laki2 telah) meninggikan. Berdasarkan kamus Arab - Indonesia karangan Prof DR H Mahmud Yunus, hal 180 katanya سَمَا artinya tinggi, tertinggi. Berdasarkan kamus Al Mawrid hak 243 arti سَمَا adalah to rise (high), tower up, dll.

Seperti telah kita sebut beberapa hari yang lewat bahwa aksara ا ي dan و adalah huruf (pembentuk kata) yg lemah, dia bisa berubah. Dalam kata سمو aksara و berubah menjadi ا (alif) tanpa harakat (hanya jika posisi و ada di tengah atau di akhir, kalau posisi و ada di awal maka dia berubah menjadi ى / alif maqshuurah atau tetap و tanpa harakat)

Jenis akar kata: fi'il (فعل) adalah kata kerja atau perintah. Ali RA mendefinisikan fi'il sebagai kata yang memberikan informasi/aktifitas. Sedangkan berdasarkan ilmu nahwu sharaf bahwa fi'il adalah kalimat yang menunjukkan makna mandiri dan disertai dengan pengertian zaman (waktu).

Semoga bermamfaat, wallahu a'lamu bishshawab.


Wassalam,
Aba Abdirrahim 

Referensi : https://tafsirweb.com/37082-surat-al-fatihah-lengkap.html

Kamis, 31 Agustus 2023

Etiquette of Eating in Islam


In Islam, there are etiquettes of eating which could be categorized as follows:


1 – Washing the hands before eating.

2 – Mentioning the name of Allah before eating saying “Bismillaah (i.e., in the name of Allah)” when starting to eat. It was narrated from Umm Kalthoom from `Aa’ishah (may Allah be pleased with her) that the Messenger of Allah (peace and blessings be upon him) said: “When any one of you eats, let him mention the name of Allah. If he forgets to mention the name of Allah at the beginning, then let him say ‘Bismillaahi awwalahu wa aakhirahu (i.e., In the name of Allah at the beginning and at the end).’”

And praying or du`a' before eating *"Allahumma baariklanaa fiimaa rozaqtanaa wa qinaa adzaabannar, Allahummaj'alhu rizqon thoyyiban, laa tabi'ata fiihi wa laa hisaaba"*

3 – Eating with the right hand. It is obligatory for the Muslim to eat with his right hand; he should not eat with his left hand. It was narrated from Ibn `Umar (may Allah be pleased with him) that the Prophet (peace and blessings be upon him) said: “No one among you should eat with his left hand, or drink with it, for the Shaytaan eats with his left hand and drinks with it.”

This applies so long as there is no excuse. However, if a person is not able to eat and drink with his right hand due to some excuses such as; sickness, injury etc., then there is nothing wrong with him if he eats with his left hand.

4 – Eating from what is directly in front of one. It is Sunnah for a person to eat from the food that is directly in front of him, and not reach out to take food that is directly in front of others, or from the middle of the platter. The Prophet (peace and blessings be upon him) said to ‘Umar ibn Abi Salamah, “O young boy, say Bismillaah, eat with your right hand, and eat from what is directly in front of you.”

5 – It is Sunnah before eating to prioritize eating fruit first.

6 – Sunnah to taste salt before eating. Based on hadith; "It was narrated from the Prophet Muhammad shallallahu'alaihi wassalam: (he said to Sayyidina Ali ra.) "O Ali, start your meal by (tasting) salt, because in fact salt is a cure for seventy diseases, including madness, leprosy, stripes, stomachache, and toothache"

7 – Sunnah to recite the words of praise to Allah and du`a’ after one has finished eating. When he had finished eating, the Prophet (peace and blessings of Allah be upon him) used to say, “Al-hamdu Lillaahi ath'amanii haadha to'aam warozaqoniihi min ghoiri haulimminni walaa quwwah.”

8 – The etiquette of eating also includes: eating with a group; not speaking about things that are haram while eating; eating with one’s wives and children; not keeping a particular food to oneself unless there is a reason for that, such as it being for medicinal purposes – rather one should offer the best food to others first, such as pieces of meat and soft or good bread. 

9 – Not condemning the food. Abu Hurayrah (may Allah be pleased with him) narrated that the Prophet (peace and blessings be upon him) never condemned or criticized any food. If he liked it he would eat it and if he did not like it he would leave it.

10 – Avoiding eating and drinking from vessels of gold and silver, because that is prohibited. The Prophet (peace and blessings be upon him) said: “Do not wear silk or brocade, and do not drink from vessels of gold and silver, or eat from plates thereof. They are for them (i.e., unbelievers) in this world and for us in the Hereafter.”

11 – Praising Allah after finishing eating. There is a great deal of virtue in this. It was narrated from Anas ibn Malik that the Messenger of Allah (peace and blessings of Allah be upon him) said: “Allah is pleased with His slave when he eats something and praises Him for it, or drinks something and praises Him for it.”

Several ways of praising Allah have been narrated from the Prophet one of them is what Al-Bukhaari narrated that Abu Umaamah said: When the Prophet (peace and blessings of Allah be upon him) finished eating, he would say, “Al-hamdu Lillaah hamdan katheeran Tayyiban mubaarakan fihi ghayra makfiyyin wa laa muwadda’in wa laa mustaghnan ‘anhu rabbana (Praise be to Allah, much good and blessed praise. O our Lord, You are not in need of anyone, and we cannot do without Your favour nor dispense with it).”


Sabtu, 20 Agustus 2022

 

Pentingnya Belajar Menjaga Shalat di Awal Waktu

 

Segala puji bagi Allah dan bersyukur hanya kepada Allah Subhanahu wata’ala, dan semoga shalawat serta salam selalu terlimpah kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam, para sahabatnya Radhiallahu ‘anhum serta para pengikutnya yang selalu memperjuangkan agama yang haq ini.

Betapa pentingnya shalat, sehingga Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam di akhir hayatnya pun yang terucap di bibir beliau yang mulia adalah shalat…shalat… Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam pun akan sedih dan marah jika ada sahabat beliau yang tidak datang ke masjid untuk shalat berjama’ah.

Shalat adalah tiang agama dan bagian terpenting setelah iman serta amalan yang pertama kali akan ditanyakan pada hari hisab. Dalam hadist-hadistnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda “Shalat adalah sebaik-baik amal yang ditetapkan oleh Allah Subhanallahu wata’ala untuk hamba-Nya”. Sayyidina Abdullah bin Mas’ud Radhiallahu ‘anhu berkata “Aku pernah bertanya kepada Baginda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam, “amal apakah yang paling dicintai oleh Allah Subhanallahu wata’ala?” Beliau menjawab, “Shalat”. Aku bertanya lagi, “Lalu apa?” Beliau menjawab, “Berbuat baik kepada kedua orang tua”. Selanjutnya aku bertanya lagi, “Kemudian apa?” Beliau menjawab, “Berjuang di jalan Allah.” Shalat ada dalam urutan pertama dalam hal yang dicintai oleh Allah.



 

 

Artinya : “Shalat adalah tiang agama. Barangsiapa mendirikannya maka ia mendirikan shalat, barangsiapa meninggalkannya maka dia merusak agama”.

Hadist di atas menunjukkan bahwa apabila kita mendirikan dan menegakkan shalat, maka sama dengan kita mendirikan dan menegakkan agama Allah. Jika kita tidak mendirikan dan meninggalkannya maka kita tergolong orang yang menghancurkan agama. Bukan hanya kepada kita saja akibat buruk yang akan dirasakan asbab dari meninggalkan shalat, tapi juga berakibat buruk bagi agama.

Banyak kemanfaat dari kita menegakkan shalat dan menjalankannya di awal waktu. Dengan kita menjalankan shalat fardhu di awal waktu maka Allah berikan ganjaran kerkahan rizki, terhindar dari siksa kubur, menerima catatan amal dengan tangan kanan, meniti shirot secepat kilat dan berjalan-jalan di pasar surga. Shalat juga menjaga kita agar terhindar dari perbuatan yang mungkar. Apabila baik shalat kita maka baik seluruh amalan kita, dan apabila rusak shalat kita maka rusak seluruh amalan kita.

 

Barangsiapa terjaga shalat di masjid selama empat puluh hari tanpa tertinggal takbiratul ula bersama imam maka akan terhindar dari dua hal, yaitu terhindar dari api neraka dan dari sifat nifak.

 

Masih banyak lagi hadist-hadist Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam yang berkenaan dengan fadhilah dan keutamaan menjaga shalat di awal waktu. Kunci surga adalah shalat dan kunci shalat adalah bersuci. Shalat lima waktu dari Jum’at satu ke Jum’at yang lain dan dari Ramadhan satu ke Ramadhan yang lain akan menghapuskan dosa diantara waktu-waktu tersbut selama ia meninggalkan dosa besar.

 

Cikarang

200822, 00.11

 

Gosip-isme (lucu)

 

 

Suasana suatu kantor adalah satu kewajaran jika sekali-kali terjadi intrik dan penebaran gosip antar karyawannya. Gosip terutama, adalah yang paling sering menjadi peramai suasana kantor dan penggerak para karyawan berkerumun di jam-jam istirahat atau waktu lowong dari pekerjaan.

 

Biasanya sich gosip beredar di kalangan level  manager ke bawah, dan dilakukan oleh 87% wanita, sisanya pria,-yang gemulai maupun tidak.

 

Aku, ehem...alhamdulillah tidak termasuk dalam penggemar gosip. Aku lebih memilih jutaan elektron yang ditebarkan monitor didepanku untuk menyerang mataku –pilihan bodoh yg dipaksakan-. Istilahnya ngoprek-ngoprek, apa sich dalemnya ni komputer?.

 

Tapi ini bukan berarti aku tidak tahu gosip yang sedang beredar. Ada aja kok yang tiba-tiba duduk manis di bangku samping meja kerjaku, dan bercerita kondisi up to date kantor. Yang aku tanggapi dengan “oh ya?”. Alhasil dapat komentar “Aduch Dien, gak gaul banget sich loe!”. Hehehe...

 

Suatu hari teman seperjuangan di kantor tercinta yang duduk persis di belakang aku terdengar berbincang di telepon dengan seseorang -yang aku pastikan aku pun kenal dengan lawan bicaranya itu. Tidak bermaksud nguping, tidak. Jarak kami dekat, hanya dibatasi partisi, teman aku berbisik pun aku jamin aku dengar. Itu saking dekatnya.

 

Aku pun dapat mengerti dan menuliskan ulang bahwa sang lawan bicara ini menginformasikan sesuatu hal yang baru, semacam penambahan fasilitas kerja untuk salah satu teman kami, yang berita ini disambut dengan riang dan sedikit ledekan 'menggoda' teman aku kepada lawan bicaranya itu.

 

Setelah selesai bertelepon ria, sang teman ini dengan ikhlas dan penuh keriangan dilapisi perasaan iri mengabarkan ulang berita yang dia dapat itu kepada teman satu ruangannya, yang hanya dibatasi partisi, yaitu aku.

 

Seperti biasa, aku hanya bisa merespon “oh ya?, hebat donk”. “Kapan ya kita dapet juga?” sambungnya sambil pergi, entah kemana lagi teman aku ini akan menyebarkan berita barunya.

 

Untukku pribadi sebagai karyawan, berita itu tidak begitu berpengaruh. Tapi sebagai diri aku pribadi, yang ada di hati aku adalah aku bangga dengan teman kantor yang mendapat fasilitas kerja itu. Dia salah satu sahabatku, bangga donk.

 

Tidak membutuhkan waktu yang lama untuk mendapati bahwa berita itu tersebar luas dan didengar oleh sebagian besar penghuni kantor. Setengah hari cukup, berita itu sudah heboh.

 

Dan itu terjadi dibelakang aku, komputer adalah teman sejati aku saat kejadian itu berlangsung.

 

Sampai kesesokan harinya setelah kejadian telepon ceria teman aku itu, sore harinya ada sms yang sengaja tidak aku kutip semua, tidak persis seperti aslinya, tapi ini poinnya. “...kalau kamu tau soal berita 'ini', tolong jangan disebarin kemana-mana ya?..”.

 

“What??!!” hey...sudah beredar loch....dan.... whay me..? kenapa sms itu datangnya ke HP aku yang mungil dan tidak berdosa itu? kenapa tidak ke teman aku yang lain? teman yang duduk dibelakang aku yang hanya beda partisi itu minimal? kenapa aku? semua itu terjadi di belakang aku kok, oh my God...!

 

Aku minta ampun gemes dengan sms itu, tapi duch... ini dikirimkan oleh sahabat baik aku yang berita akan mendapatkan fasilitasnya itu dijadikan gosip. Aku tidak yakin sahabat aku ini bersms atas kehendak dia sendiri, aku memperkirakan ada instruksi dibalik itu. Sahabat aku ini ada di kantor yang berbeda. Alih-alih mengobral geram, maka aku memilih menjawab sms nya berikut “....kalau memang berita itu benar, bersyukurlah. Tapi jika tidak, berdo'alah. Allah Maha Mendengarkan dan Mengabulkan do'a”.

 

Tidak lama setelah itu, aku mendengar bahwa atasan kami, -yang kemarin bertelepon ceria dengan teman satu ruangan dengan aku itu- menitahkan kepada para punggawanya untuk memerintahkan kepada entah siapa yang ada dibawah tanggung jawab mereka untuk menghentikan tersebarnya gosip itu. Dan diinfokan juga, bahwa seharusnya berita itu sementara hanya boleh ada di level midle to top management. -*bassee banget gak sech?!*- 😊

 

Dan lagi-lagi aku dibuat heran, karena aku salah satu yang mendapat telpon interogasi penghentian gosip itu dari sang punggawa. Dipesankan untuk tidak menyebarkan lagi gosip itu kalau sudah tahu. Kam……eett!!.

 

Bagaimana caranya dia memilah siapa yang ditelpon, aku juga tidak mengerti. Yang jelas sich, kondisi kantor kami tidak memerlukan seorang penyelidik bayaran untuk mencari tahu biang kerok suatu kejadian. Kami masih mampu, dan gampang kok, bisa dilihat dengan jelas sebenarnya. Skalanya kecil. Hanya karena kondisinya terlalu kekeluargaan, jadi semua dianggap sama rata. Dan, aku yakin sang Punggawa ini pun mendapat berita dari sumber yang sama sebelumnya. Jadi harusnya sudah tau kan siapa yang menyebarkan dan harus dihentikan?.

 

Dan bukan kah dengan sistem telpon seperti itu, orang yang tadinya tidak tahu jadi tahu?

 

Ha..ha..ha... tambah lebar dech..

 

Itulah makanya aku tidak mau menjadi anggota kelompok gosip mania. Sangat lucu dan melucukan diri sekali.

 

Aku tidak mengerti dan masih heran, kenapa sms dan telpon itu juga diarahkan ke aku. Wach... ada konspirasi negatif nich..

 

Hey... datanglah kau wahai gosip, maka kau ku tendang!!!!!

 

Sepertinya mereka belum tau siapa yang menjaga aku. Tidak bermaksud sombong, tapi Allah bersamaku, bos…

 

Kalau mau dirunut, kejadian ini pernah aku alami sebelumnya. Topiknya berbeda, -lebih hot malah- hehehe…, para pelaku juga hampir sama semua. Alhamdulillah semua teratasi dengan baik.

 

Ke depan, aku akan dan harus lebih siap dan waspada atas gosip-gosip yang beredar diatasnamakan ke aku lagi.

 

Ya Allah, terima kasih atas pelajaran yang berharga yang Engkau ajarkan untuk hamba. Terima kasih atas kasih sayang yang selalu tercurah kepada hamba. Terima kasih atas penjagaan-Mu yang menyamankan hamba. Tegur hamba jika hamba lalai ya Allah.

 

Haturkan pula kasihsayang-Mu untuk teman-teman dan sahabat-sahabat hamba di kantor, ya Allah. Tajamkan pengertian mereka bahwa Engkau Maha Melihat dan Mengetahui.

 

Amien.

 

 

22.22

Leuwinanggung 300308

 

Kejernihan Hati

 

 

Siapa sich yang gak ingin memiliki hati yang jernih? Bahkan penjahatpun kalau sedang betul-betul sadar, sangat amat merindukan kebersihan prilaku dan sangat-sangat menyesali perbuatan jahatnya. Walaupun kalau sedang tidak sadar balik jahil lagi.

 

Ingiiiiiiin…. Sekali memiliki hati yang jernih dan bersih. Ya Allah. Jernih dari perasaan-perasaan yang tidak meningkatkan kualitas pribadiku, jernih dari kecongkakan dan kesombongan duniawi yang sangat amat tidak layak disandang. Bersih dari kedangkalan jiwa dan mudahnya tersinggung karena gunjingan orang lain yang sama sekali tidak penting. Bersih dari ria.

 

Bukan berarti tidak boleh sakit hati ataupun sedih. Boleh sakit hati, boleh sedih, tapi sebentar saja.

 

Aku belum bisa menjaga hatiku, aku belum bisa sekuat-kuatnya berjuang berperang melawan nafsuku. Bergejolak jiwaku, berperang hatiku melawan sang nafsu. Tapi itu belum kaffah. Subhanallah, kaffah, betapa ingin hatiku menjalaninya secara kaffah. Semoga Engkau melebarkan jalan dan menganugerahkan kekuatan itu untukku ya Robb.

 

Jika waktunya datang hatiku tersakiti, apakah itu dari ucapan teman-temanku yang tidak suka dengan sikapku atau dari sikap teman-teman yang tidak suka kata-kata yang kuucapkan, kadang aku lupa bahwa rasa sakit itu juga Allah yang mengizinkannya hadir. Dan terutama jika aku membiarkan rasa sakit itu menyentuh hatiku.

 

Jika saja setiap teguran itu hadir, besar maupun kecil, dan aku langsung ingat bahwa itu adalah cara Allah membersihkan kesalahan dan dosaku, cara Allah meningkatkan kecintaanku padaNya. Akan pasti terasa nikmat menjalaninya, terasa damai hatiku merasakannya. Tapi aku terlalu sering membiarkan emosiku yang hadir di awal teguran itu datang, baru kejernihan hatiku yang berkilauan itu menenangkan jiwa. Memerah dulu wajahku baru aku ingat rahmatMu. Duch..

 

Andai kejernihan hati itu mendahului segalanya, semakin cepat besarlah kecintaanku padaMu ya Allah.

 

Robb, semoga Engkau mengijabah permohonanku, untuk menjadikanku hambaMu yang jernih hati. Amien.

 

Rawamangun

230908, 04.46

Adab dan Do'a Ketika Melihat Orang Terkena Musibah

Diantara adab-adabnya: 1. Tidak menghina orang yang tertimpa musibah dan tidak menjadikannya bahan pembicaraan. Sabda Rasulullah saw:  _...