Jumat, 30 Oktober 2026

Capaian Pembelajaran (CP) pada PAUD (TK/RA/KB/Sederajat)

CAPAIAN PEMBELAJARAN FASE FONDASI DI AKHIR SATUAN PENDIDIKAN ANAK USIA DINI (TAMAN KANAK-KANAK, RAUDHATUL ATHFAL, KELOMPOK BERMAIN, TAMAN PENITIPAN ANAK, ATAU BENTUK LAIN YANG SEDERAJAT) 

A. Rasional

Capaian Pembelajaran PAUD atau disebut juga fase fondasi disusun dengan mempertimbangkan beberapa rasional: 

Pertama, Capaian Pembelajaran mencerminkan nilai karakter yang tertuang di dalam profil pelajar Pancasila, serta kompetensi yang tertuang di dalam Standar Kompetensi Lulusan untuk Anak Usia Dini (atau Standar Tingkat Pencapaian Perkembangan Anak - STPPA), yang merupakan landasan atau fondasi sebelum membangun kemampuan yang lebih kompleks pada jenjang pendidikan selanjutnya. Selaras dengan profil pelajar Pancasila dan STPPA, rumusan Capaian Pembelajaran dibuat fleksibel untuk memberikan lebih banyak ruang kemerdekaan bagi satuan PAUD dalam merancang tujuan pembelajaran yang mencerminkan visi dan misinya. Beragam keadaan sosial, budaya, ekonomi, dan sumber daya masyarakat Indonesia adalah sinyal bahwa penjabaran mengenai apa yang perlu dipelajari di satuan PAUD harus tetap menyediakan ruang kemerdekaan bagi satuan pendidikan dan ekosistemnya dalam menentukan bagaimana mereka akan menggunakan semua potensi yang dimiliki untuk mencapai Capaian Pembelajaran. Kedua, Capaian Pembelajaran dirumuskan sebagai suatu nilai dan kompetensi untuk dicapai pada akhir partisipasi anak di satuan PAUD, dan karenanya tidak perlu dikunci menjadi capaian per usia. Rancangan ini didasarkan pada pendekatan konstruktivistik yang memposisikan peserta didik sebagai individu yang aktif mengonstruksi pengetahuannya sendiri, yang dipengaruhi oleh perbedaan pengalaman, latar belakang, dan lingkungan, sehingga menyebabkan variasi dalam proses belajar. Artinya, rancangan ini berpijak pada kepercayaan bahwa laju perkembangan anak beragam, sehingga Capaian Pembelajaran tidak dapat disekat-sekat berdasarkan rentang usia. Ketiga, Capaian Pembelajaran fase fondasi juga mempertimbangkan kemampuan yang perlu dimiliki anak untuk memudahkan transisinya dari PAUD ke SD. 

Kemampuan tersebut merupakan enam kemampuan fondasi, yang terdiri dari: 

• mengenal nilai agama dan budi pekerti; 

• kematangan emosi untuk berkegiatan di lingkungan belajar; 

• keterampilan sosial dan bahasa yang memadai untuk berinteraksi sehat dengan teman sebaya dan individu lainnya; 

• pemaknaan terhadap belajar yang positif; 

• pengembangan keterampilan motorik dan perawatan diri untuk dapat berpartisipasi di lingkungan sekolah secara mandiri; 

• kematangan kognitif untuk melakukan kegiatan belajar, seperti dasar literasi, numerasi, serta pemahaman dasar mengenai bagaimana cara dunia bekerja. 

Kemampuan fondasional ini juga merupakan kemampuan yang dapat membantu anak usia dini memiliki kesiapan bersekolah. Kesiapan bersekolah tidak harus dicapai sebelum anak masuk ke jenjang pendidikan dasar, melainkan dapat terus dibangun bertahap mulai dari lingkup pembelajaran fase fondasi di PAUD hingga akhir fase A. Cara pandang ini lebih sesuai untuk konteks Indonesia di mana tidak semua anak pernah berpartisipasi di PAUD. Artinya, setiap anak berhak mendapatkan pembinaan kemampuan fondasional, walaupun titik berangkatnya ada yang dimulai sejak PAUD, maupun yang baru dibangun saat duduk  di jenjang pendidikan dasar. Cara pandang ini juga menghargai keragaman anak dalam berproses. Landasan teori dari penyusunan kemampuan fondasional yang dibangun mulai dari Capaian Pembelajaran Fase Fondasi hingga Capaian Pembelajaran Fase A dalam satu lajur pembelajaran, berpijak pada berbagai hasil studi yang memaknai periode anak usia dini adalah usia 0-8 tahun (UNESCO; Shonkoff et al., 2016). 

Konsekuensi dari hal ini adalah, pembelajaran di satuan PAUD dan pendidikan dasar di fase A perlu dijaga kesinambungan dan keselarasannya karena menyasar target peserta didik yang sama. 

Penyusunan kemampuan fondasional sebagai dasar rumusan Capaian Pembelajaran di PAUD hingga SD fase A, juga bermaksud untuk menghilangkan miskonsepsi bahwa kemampuan calistung (membacamenulis-berhitung) adalah satu-satunya bukti keberhasilan belajar pada anak usia dini dan dapat dibangun secara instan. Literasi tidak sebatas pada keaksaraan yang berujung pada baca dan tulis saja. Pada kemampuan literasi, aspek kemampuan yang perlu dibangun juga meliputi kemampuan bertutur, pengetahuan latar, perbendaharaan kosakata, kesadaran fonemik, dan kesadaran cetak (Stewart, 2014 dalam Pusat Perbukuan, 2023). 

Kemampuan fondasi yang perlu dibangun pada anak usia dini juga bukan hanya kemampuan literasi dan numerasi. Ada ragam kemampuan fondasi yang perlu dimiliki anak usia dini agar dapat berkembang secara utuh, antara lain kemampuan mengelola emosi, kemandirian, kemampuan mengambil keputusan, kemampuan berbahasa, dan utamanya pemaknaan terhadap belajar yang positif (BSKAP, 2023). 

Kemampuan fondasi ini juga selaras dengan Peraturan Presiden No. 60 tahun 2013 tentang PAUDHI. Dengan membangun kemampuan fondasi ini secara utuh melalui Capaian Pembelajaran Fase Fondasi dan kemudian dilanjutkan melalui Capaian Pembelajaran Fase A, anak akan memiliki bekal untuk menjadi pelajar sepanjang hayat dan dapat menjalani kehidupan dengan lebih baik. 

Dalam penyusunan Capaian Pembelajaran, dirumuskan elemen-elemen atau domain yang membentuk kemampuan yang penting dibangun pada anak usia dini. Elemen-elemen ini dirumuskan berdasarkan pertimbangan aspek perkembangan anak yang mencakup (1) nilai agama dan moral, (2) nilai Pancasila, (3) fisik motorik, (4) kognitif, (5) bahasa, dan (6) sosial emosional, STPPA, profil pelajar Pancasila, serta berbagai referensi literatur. Pertimbangan konseptual untuk dasar perumusan elemen di dalam Capaian Pembelajaran Fase Fondasi beserta lingkup Capaian Pembelajaran adalah sebagai berikut.


































B. Tujuan 

Capaian Pembelajaran merupakan rujukan bagi satuan PAUD dalam merancang pembelajaran di satuan pendidikan bagi peserta didik usia dini. Capaian Pembelajaran memberikan kerangka pembelajaran yang memandu pendidik di satuan PAUD dalam membangun nilai-nilai, pengetahuan, dan keterampilan fondasi yang dibutuhkan oleh anak usia dini sebelum memasuki jenjang pendidikan dasar, serta sebagai pelajar sepanjang hayat. Tujuan dari Capaian Pembelajaran Fase Fondasi adalah terbangunnya kemampuan fondasional dengan memperhatikan kesejahteraan (wellbeing) anak. Well-being dimaknai sebagai keadaan/kondisi fisik, mental, dan sosial emosional anak yang sehat, bahagia, aman, dan nyaman. Kemampuan fondasional yang dibangun melalui Capaian Pembelajaran Fase Fondasi, mencerminkan peran PAUD dalam membangun kepemilikan nilai agama-moral, nilai Pancasila, serta perkembangan fisik motorik, kognitif, bahasa, dan sosial-emosional pada anak usia dini. 


C. Karakteristik 

1. Karakteristik Lingkup Capaian Pembelajaran

Karakteristik lingkup Capaian Pembelajaran Fase Fondasi berbeda dengan karakteristik lingkup Capaian Pembelajaran untuk jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Lingkup Capaian Pembelajaran Fase Fondasi berisikan sejumlah kompetensi yang dapat diibaratkan serupa dengan sejumlah mata pelajaran yang ada pada jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Capaian Pembelajaran bagi anak usia dini perlu membangun enam aspek perkembangan berikut (sesuai STPPA): nilai agama dan moral, fisik motorik, kognitif, sosial emosional, bahasa, dan nilai Pancasila. Aspek perkembangan ini kemudian dirumuskan menjadi tiga elemen di dalam Capaian Pembelajaran Fase Fondasi yang dirumuskan secara terintegrasi. 

2. Karakteristik Pembelajaran PAUD 

Pendidik perlu memahami dan menerapkan karakteristik pembelajaran yang perlu terjadi agar tujuan Capaian Pembelajaran Fase Fondasi tercapai. Karakteristik pembelajaran sebagai berikut.

a. Interaksi dengan anak yang mencerminkan rasa menghargai dan menghormati anak. 

b. Kegiatan pembelajaran dirancang untuk mendorong rasa ingin tahu anak dan memberikan pengalaman yang menyenangkan agar tercapainya tujuan pembelajaran. 

c. Perancangan kegiatan pembelajaran memperhatikan laju perkembangan, minat, dan kebutuhan anak yang berbeda. 

d. Penyusunan tujuan pembelajaran mampu memunculkan tantangan bagi anak. 

e. Pencapaian tujuan pembelajaran dilakukan dengan pemberian bimbingan dan dukungan pada anak. 

f. Pencapaian tujuan pembelajaran dilakukan melalui kemitraan dengan keluarga. 

g. Pemanfaatan lingkungan dan teknologi sebagai sumber belajar. 

h. Pelaksanaan asesmen selalu bertujuan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran selanjutnya. 

i. Penerapan asesmen dilakukan dengan cara autentik (mengamati perilaku/kemampuan anak secara alami dan apa adanya yang ditampilkan anak), sehingga lebih adil dalam mendokumentasikan perilaku dan kemampuan yang teramati. 


D. Capaian Pembelajaran Pada akhir partisipasi anak di PAUD

Capaian Pembelajaran Fase Fondasi memandu agar anak dapat memiliki nilai-nilai agama dan karakter budi pekerti baik, menumbuhkan rasa positif anak terhadap diri, serta memiliki berbagai kemampuan dasar yang akan menjadi bekalnya untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan selanjutnya dan menjadi pelajar sepanjang hayat. Rumusan 

Capaian Pembelajaran Fase Fondasi yang terdiri dari tiga elemen yang saling terkait adalah sebagai berikut. 

1. Nilai Agama dan Budi Pekerti 

Anak mengenal konsep Tuhan Yang Maha Esa, mengenal kebiasaan praktik ibadah agama atau kepercayaannya, menghargai diri, sesama manusia, dan alam sebagai bentuk syukur terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Subelemen di dalam Elemen Nilai Agama dan Budi Pekerti adalah sebagai berikut. 

• anak percaya kepada Tuhan Yang Maha Esa, mulai mengenal dan mempraktikkan ajaran pokok sesuai dengan agama dan kepercayaannya; 

• anak berpartisipasi aktif dalam menjaga kebersihan, kesehatan, dan keselamatan diri sebagai bentuk rasa sayang terhadap dirinya dan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa; 

• anak menghargai sesama manusia dengan berbagai perbedaannya dan mempraktikkan perilaku baik dan berakhlak mulia; dan 

• anak menghargai alam dengan cara merawatnya dan menunjukkan rasa sayang terhadap makhluk hidup yang merupakan ciptaan Tuhan Yang Maha Esa. 

2. Jati Diri 

Anak mengenali identitas diri, mampu menggunakan fungsi gerak, memiliki kematangan emosi dan sosial untuk berkegiatan di lingkungan belajar. Subelemen di dalam Elemen Jati Diri adalah sebagai berikut. 

• anak mengenali, mengekspresikan, dan mengelola emosi diri, serta membangun hubungan sosial secara sehat; 

• anak memahami identitas dirinya yang terbentuk oleh ragam minat, kebutuhan, karakteristik gender, agama, dan sosial budaya; 

• anak mengenal dan memiliki perilaku positif terhadap identitas dan perannya sebagai bagian dari keluarga, sekolah, masyarakat, dan anak Indonesia sehingga dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan, aturan, dan norma yang berlaku; dan 

• anak menggunakan fungsi gerak (motorik kasar, halus, dan taktil) untuk mengeksplorasi dan memanipulasi berbagai objek dan lingkungan sekitar sebagai bentuk pengembangan diri. 

3. Dasar-dasar Literasi, Matematika, Sains, Teknologi, Rekayasa, dan Seni 

Anak memiliki kemampuan literasi dasar, matematika dasar, dan sains, mampu memanfaatkan teknologi dan rekayasa sederhana, serta menciptakan dan mengapresiasi karya seni. Subelemen di dalam Elemen Dasar-dasar Literasi, Matematika, Sains, Teknologi, Rekayasa, dan Seni adalah sebagai berikut. 

• anak mengenali dan memahami berbagai informasi, mengomunikasikan perasaan dan pikiran secara lisan, tulisan, atau menggunakan berbagai media serta membangun percakapan; 

• anak menunjukkan minat, kegemaran, dan berpartisipasi dalam kegiatan pramembaca dan pramenulis; 

• anak memiliki kemampuan menyatakan hubungan antar bilangan dengan berbagai cara (kesadaran bilangan), mengidentifikasi pola, mengenali bentuk dan karakteristik benda di sekitar yang dapat dibandingkan dan diukur, mengklasifikasi objek, dan kesadaran mengenai waktu melalui proses eksplorasi dan pengalaman langsung dengan benda-benda konkret di lingkungan; 

• anak mampu menyebutkan alasan, pilihan atau keputusannya, mampu memecahkan masalah sederhana, serta mengetahui hubungan sebab akibat dari suatu kondisi atau situasi yang dipengaruhi oleh hukum alam;

 • anak menunjukkan rasa ingin tahu melalui observasi, eksplorasi, dan eksperimen dengan menggunakan lingkungan sekitar dan media sebagai sumber belajar untuk mendapatkan gagasan mengenai fenomena alam dan sosial; 

• anak menunjukkan kemampuan awal menggunakan dan merekayasa teknologi serta untuk mencari informasi, gagasan, dan keterampilan secara aman dan bertanggung jawab; dan 

• anak mengeksplorasi berbagai proses seni, mengekspresikannya, serta mengapresiasi karya seni.








Elemen Nilai Agama dan Budi Pekerti 

Pertimbangan konseptual untuk perumusan elemen 

Lingkup Capaian Pembelajaran 

Deskripsi Lingkup Capaian Pembelajaran

1. Nilai-nilai agama serta praktiknya dalam ibadah penting dibiasakan kepada anak sedini mungkin. 

2. Menunjukkan sikap menjaga diri sendiri sebagai bagian dari rasa syukur terhadap Tuhan Yang Maha Esa. 

3. Pentingnya menjaga hubungan dengan sesama dan merawat kelestarian alam sebagai salah satu bentuk pengamalan nilai-nilai ajaran agama. 

4. Sikap toleransi dengan menghargai perbedaan agama dan kepercayaan perlu dipupuk agar terbentuk kehidupan yang harmonis dalam keberagaman. 

Nilai Agama Nilai Agama pada konteks PAUD meliputi kemampuan anak dalam mengenal konsep Tuhan Yang Maha Esa serta kebiasaan praktik ibadah agama atau kepercayaannya. Budi Pekerti Budi Pekerti pada konteks PAUD meliputi karakter dan perilaku baik yang dimiliki oleh anak, dan ditunjukkan saat anak berinteraksi dan menghargai sesama manusia termasuk perbedaan agama dan kepercayaan, serta alam dan makhluk hidup sebagai ciptaan Tuhan Yang Maha Esa. Rasa Syukur terhadap Tuhan Yang Maha Esa Rasa syukur terhadap Tuhan Yang Maha Esa dalam konteks PAUD diwujudkan dengan sikap menghargai diri yang ditunjukkan saat anak mampu menjaga diri, kebersihan, dan kesehatan diri.




Panduan Lengkap Menyusun Modul Ajar_Kurikulum Merdeka

Tahun Ajaran 2026/2027 bukan tahun ajaran biasa. Inilah titik berakhirnya masa transisi Kurikulum Merdeka — termasuk bagi sekolah di wilayah 3T yang sebelumnya masih diberi kelonggaran. Artinya, mulai Juli 2026, menyusun Modul Ajar dan ATP yang sesuai Capaian Pembelajaran (CP) terbaru bukan lagi pilihan, melainkan kewajiban bagi seluruh satuan pendidikan di Indonesia, tanpa kecuali.

Masalahnya, banyak guru masih menyusun ATP dan Modul Ajar dengan cara lama: menyalin contoh dari internet, mengganti nama sekolah, lalu mencetaknya untuk arsip administrasi. Padahal, regulasi terbaru — terutama Permendikdasmen Nomor 13 Tahun 2025 yang merevisi Permendikbudristek Nomor 12 Tahun 2024 — membawa sejumlah penyesuaian penting pada cara CP diturunkan menjadi ATP, dan bagaimana Modul Ajar seharusnya mencerminkan prinsip pembelajaran mendalam (deep learning).

Artikel ini disusun oleh tim akademik Dea Learning Center sebagai panduan kerja, bukan sekadar teori. Anda akan mendapatkan alur logis dari CP hingga Modul Ajar, langkah penyusunan ATP yang runtut, contoh penurunan tujuan pembelajaran, hingga kerangka Modul Ajar yang siap dimodifikasi sesuai kelas Anda.


Mengapa TA 2026/2027 Jadi Titik Krusial untuk ATP dan Modul Ajar

Selama dua tahun terakhir, Kurikulum Merdeka berstatus sebagai kurikulum nasional dengan masa transisi — sekolah di luar wilayah 3T diberi waktu hingga TA 2025/2026, sementara sekolah di wilayah 3T diberi kelonggaran hingga TA 2026/2027. Mulai tahun ajaran ini, masa transisi tersebut resmi berakhir. Tidak ada lagi sekolah yang bisa bertahan dengan kurikulum lama sambil menunggu “nanti-nanti saja”.

Ada tiga perubahan konkret yang langsung memengaruhi cara Anda menyusun ATP dan Modul Ajar:

  • CP yang diperbarui. Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah telah menerbitkan pembaruan CP melalui Keputusan Kepala BSKAP — salah satunya berlaku untuk kelas-kelas awal (IV, VII, dan X) dan satu lagi untuk kelas yang sudah berjalan. Jika ATP Anda masih merujuk pada dokumen CP versi lama, kemungkinan besar sudah tidak sinkron dengan ketentuan terbaru.
  • Pembelajaran mendalam menjadi prinsip wajib, bukan sekadar tren. Permendikdasmen Nomor 13 Tahun 2025 secara eksplisit menjadikan pembelajaran mendalam sebagai pendekatan yang harus tercermin dalam kegiatan inti Modul Ajar — bukan lagi opsi tambahan untuk guru yang “ingin tampil beda”.
  • Struktur kokurikuler berubah. Jika sebelumnya kokurikuler identik dengan Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5), kini bentuknya lebih fleksibel: bisa berupa pembelajaran kolaboratif lintas mata pelajaran, Gerakan 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat, atau bentuk lain yang ditetapkan satuan pendidikan. Ini berimplikasi pada bagaimana Anda memetakan alokasi waktu di Prota dan Promes.

Jika sekolah Anda belum melewati semua checklist administratif menjelang tahun ajaran baru, kami sudah membahasnya secara lengkap di artikel Persiapan Tahun Ajaran Baru 2026/2027: Checklist Wajib Guru. Artikel kali ini berfokus lebih dalam khusus pada dua dokumen yang paling sering membuat guru kebingungan: ATP dan Modul Ajar.

Belum yakin sekolah Anda sudah siap penuh menghadapi Kurikulum Nasional 2026? Baca dulu pemetaan lengkapnya di artikel Siap Kurikulum Nasional 2026? Guru Wajib Pelatihan!


Alur Logis: dari CP, TP, ATP, hingga Modul Ajar

Sebelum masuk ke langkah praktis, penting untuk meluruskan satu kesalahpahaman yang sering terjadi di lapangan: ATP bukan dokumen yang berdiri sendiri, dan Modul Ajar bukan dokumen yang disusun dari nol tanpa rujukan. Keempatnya membentuk satu alur yang harus berurutan dan konsisten.

DokumenFungsiDisusun olehCakupan Waktu
CP (Capaian Pembelajaran)Kompetensi akhir yang harus dikuasai siswa di akhir satu fasePemerintah (BSKAP)1 fase (2–3 tahun)
TP (Tujuan Pembelajaran)Penurunan CP menjadi kompetensi yang lebih spesifik dan terukurGuru/satuan pendidikanPer unit/lingkup materi
ATP (Alur Tujuan Pembelajaran)Rangkaian TP yang disusun secara kronologis dari awal hingga akhir faseGuru/satuan pendidikan1 fase, dipecah per tahun/semester
Modul AjarRencana operasional pembelajaran harian/mingguan yang mengacu pada ATPGuruPer pertemuan/unit

Logikanya sederhana: CP menjawab “siswa harus bisa apa di akhir fase”, TP memecahnya menjadi potongan yang bisa diajarkan, ATP menyusun potongan itu menjadi urutan belajar yang masuk akal, dan Modul Ajar mengubahnya menjadi aktivitas nyata di kelas. Kesalahan yang paling sering terjadi adalah guru langsung melompat ke Modul Ajar tanpa menyusun ATP terlebih dahulu — akibatnya, urutan materi antarpertemuan terasa acak dan sulit dipertanggungjawabkan saat supervisi.


Langkah-Langkah Menyusun ATP untuk TA 2026/2027

ATP yang baik tidak harus rumit, tetapi harus runtut secara logika berpikir siswa — dari yang sederhana ke yang kompleks, dari konkret ke abstrak. Berikut langkah praktis yang bisa langsung Anda terapkan.

1. Unduh dan Baca Ulang CP Resmi Sesuai Fase yang Diampu

Jangan gunakan dokumen CP hasil simpanan tahun lalu. Pastikan Anda mengunduh versi terbaru melalui akun belajar.id di Platform Merdeka Mengajar (PMM) — menu Kurikulum Merdeka > Capaian Pembelajaran, atau melalui laman resmi guru.kemdikbud.go.id. Periksa apakah kelas yang Anda ampu termasuk kelas awal (yang menggunakan CP edisi revisi terbaru) atau kelas berjalan (yang masih mengacu pada keputusan sebelumnya). Kekeliruan paling umum di titik ini adalah guru menyusun ATP dari dokumen CP yang sudah tidak berlaku — fatal, karena seluruh dokumen turunannya otomatis tidak sinkron.

2. Pecah CP Menjadi Tujuan Pembelajaran (TP) yang Terukur

Satu kalimat CP biasanya memuat beberapa kompetensi sekaligus. Tugas Anda adalah memecahnya menjadi TP yang masing-masing hanya memuat satu kompetensi inti, menggunakan kata kerja operasional yang bisa diamati dan diukur — misalnya “mengidentifikasi”, “menganalisis”, “membandingkan”, atau “memproduksi”, bukan kata kerja yang ambigu seperti “memahami” tanpa indikator lanjutan.

Contoh penurunan (Matematika, Fase D, elemen Bilangan):

KomponenIsi
CP (ringkas)Peserta didik mampu menggeneralisasi sifat operasi bilangan (bulat, pecahan, desimal), memberikan estimasi dalam penyelesaian masalah literasi finansial, serta menentukan pola pada barisan bilangan.
TP 1Mengidentifikasi sifat-sifat operasi pada bilangan bulat
TP 2Mengoperasikan bilangan pecahan dan desimal dalam konteks transaksi sehari-hari
TP 3Memperkirakan hasil estimasi dalam masalah literasi finansial sederhana
TP 4Menentukan pola dan suku berikutnya pada barisan bilangan

3. Urutkan TP Menjadi ATP Berdasarkan Logika Belajar, Bukan Urutan Buku Teks

Inilah inti dari ATP: bukan sekadar daftar TP, melainkan urutan TP yang disusun berdasarkan kesiapan kognitif siswa. Tanyakan pada diri sendiri untuk setiap pasangan TP: “Apakah TP ini butuh pemahaman dari TP sebelumnya untuk bisa dikuasai?” Jika ya, urutannya sudah benar. Jika tidak ada keterkaitan logis, urutan tersebut masih bisa dipertukarkan dan perlu dipertimbangkan ulang berdasarkan tingkat kesulitan.

Pada contoh di atas, urutan TP1 → TP2 → TP3 → TP4 masuk akal karena: pemahaman sifat bilangan bulat (TP1) menjadi fondasi sebelum siswa mengoperasikan pecahan dan desimal (TP2), kemampuan mengoperasikan itu baru bisa diterapkan dalam estimasi kontekstual (TP3), dan barisan bilangan (TP4) memerlukan kestabilan pemahaman operasi dasar yang sudah dibangun di tahap sebelumnya.

4. Sebar ATP ke Prota dan Promes

Setelah ATP final, distribusikan ke Program Tahunan (Prota) dan Program Semester (Promes) dengan memperhitungkan minggu efektif riil — bukan asumsi 18-19 minggu generik, tetapi hasil perhitungan dari kalender pendidikan dinas setempat yang sudah dikurangi hari libur nasional, PTS, PAS, dan kegiatan sekolah lain. Sisihkan juga slot untuk kegiatan kokurikuler (kolaboratif lintas mapel atau G7KAIH) yang kini lebih fleksibel bentuknya.

5. Lakukan Uji Silang dengan Guru Sejawat Satu Fase

ATP yang disusun sendirian rawan bias terhadap gaya mengajar pribadi. Sebelum difinalisasi, diskusikan dengan rekan guru satu mata pelajaran atau satu fase — terutama untuk memastikan tidak ada kompetensi yang tumpang tindih atau justru terlewat antarjenjang kelas dalam fase yang sama.


Cara Menyusun Modul Ajar yang Selaras dengan Pembelajaran Mendalam

Setelah ATP rampung, Modul Ajar adalah tahap eksekusi. Modul Ajar yang baik untuk TA 2026/2027 tidak cukup hanya memuat “apa yang diajarkan” — ia juga harus menunjukkan bagaimana tiga prinsip pembelajaran mendalam diwujudkan: berkesadaran (mindful), bermakna (meaningful), dan menggembirakan (joyful).

Komponen Wajib dalam Modul Ajar

Tidak ada format Modul Ajar yang dibakukan secara nasional — guru bebas mengembangkan formatnya sendiri. Namun, agar selaras dengan semangat pembelajaran mendalam, pastikan komponen berikut selalu ada:

  • Informasi Umum — identitas modul, kelas/fase, alokasi waktu, dan model pembelajaran yang dipilih (Discovery Learning, Problem-Based Learning, Project-Based Learning, dan sejenisnya).
  • Tujuan Pembelajaran — diambil langsung dari ATP yang sudah Anda susun, bukan dirumuskan ulang secara terpisah.
  • Pemahaman Bermakna — satu hingga dua kalimat yang menjelaskan relevansi materi dengan kehidupan nyata siswa. Bagian ini sering dilewatkan, padahal inilah yang membedakan modul yang sekadar administratif dengan modul yang benar-benar dirancang untuk bermakna.
  • Pertanyaan Pemantik — pertanyaan terbuka di awal pembelajaran yang memancing rasa ingin tahu, bukan pertanyaan tertutup yang langsung bisa dijawab ya/tidak.
  • Kegiatan Pembelajaran — dipecah menjadi tiga tahapan pengalaman belajar mendalam: Memahami (siswa membangun pemahaman awal dari eksplorasi), Mengaplikasi (siswa menghubungkan pemahaman dengan masalah nyata atau proyek), dan Merefleksi (siswa meninjau ulang proses dan hasil belajarnya sendiri).
  • Asesmen — minimal mencakup asesmen formatif di sepanjang proses, bukan hanya tes tertulis di akhir.
  • KKTP (Kriteria Ketercapaian Tujuan Pembelajaran) — indikator konkret yang menunjukkan bahwa siswa benar-benar sudah mencapai tujuan pembelajaran, bukan sekadar “mengikuti” pelajaran.

Contoh Kerangka Modul Ajar Singkat

Berikut kerangka ringkas yang bisa Anda jadikan acuan dan modifikasi sesuai mata pelajaran serta jenjang yang diampu:

Informasi Umum

  • Mata Pelajaran/Fase: Bahasa Indonesia / Fase D (Kelas 7)
  • Alokasi Waktu: 2 × 40 menit
  • Model: Problem-Based Learning

Tujuan Pembelajaran Peserta didik mampu mengidentifikasi struktur dan ciri kebahasaan teks deskripsi dari objek di lingkungan sekitar.

Pemahaman Bermakna Kemampuan mendeskripsikan sesuatu secara detail dan runtut akan membantu siswa menyampaikan informasi secara jelas, baik dalam tulisan maupun percakapan sehari-hari.

Pertanyaan Pemantik “Jika kamu harus menjelaskan tempat favoritmu di sekolah kepada siswa baru tanpa menunjukkannya langsung, bagian apa yang akan kamu ceritakan dulu?”

Kegiatan Pembelajaran

  • Memahami: Siswa membaca dua contoh teks deskripsi dan mengidentifikasi pola strukturnya secara berkelompok.
  • Mengaplikasi: Siswa menulis teks deskripsi singkat tentang satu sudut sekolah pilihan mereka, menerapkan struktur yang sudah diidentifikasi.
  • Merefleksi: Siswa saling bertukar tulisan dengan teman, memberi masukan, lalu menuliskan satu hal yang ingin diperbaiki dari tulisannya sendiri.

Asesmen Rubrik penilaian teks deskripsi (kelengkapan struktur, ketepatan ciri kebahasaan, kejelasan deskripsi).

Modul seperti ini bisa Anda kembangkan untuk pertemuan-pertemuan berikutnya sesuai urutan ATP yang sudah disusun. Jika Anda mengampu jenjang SD dan ingin referensi yang lebih spesifik untuk pendekatan deep learning, kami sudah membahasnya tuntas di Panduan Lengkap Menyusun Modul Ajar Deep Learning SD. Untuk guru IPAS, ada panduan per fase lengkap dengan cara memodifikasi konteks lokal di artikel Modul Ajar IPAS SD per Fase + Cara Modifikasi Konteks Lokal.

Tips mempercepat penyusunan: Anda tidak perlu menulis seluruh Modul Ajar dari nol. Gunakan AI sebagai pembuat draf awal, lalu sesuaikan dengan konteks kelas Anda. Kumpulan prompt siap pakai tersedia di artikel 30 Prompt AI Terbaik untuk Guru 2026.


Kesalahan Umum yang Membuat ATP & Modul Ajar Tidak Efektif

Sebelum dokumen Anda dianggap “selesai”, periksa apakah salah satu kesalahan berikut masih ada:

1. ATP disusun mengikuti urutan bab di buku teks, bukan logika belajar siswa. Buku teks disusun untuk kemudahan penerbitan, bukan selalu untuk urutan kognitif yang optimal. ATP yang baik boleh saja mengubah urutan bab jika itu lebih masuk akal secara pedagogis.

2. Tujuan Pembelajaran ditulis terlalu luas sehingga sulit diukur. TP seperti “siswa memahami materi X” tidak memberi indikator yang jelas kapan siswa dianggap berhasil. Selalu sertakan kata kerja operasional dan, jika perlu, batasan konteks.

3. Modul Ajar tidak mencantumkan Pemahaman Bermakna dan Pertanyaan Pemantik secara substantif. Banyak guru mengisi kedua bagian ini sekadar formalitas administratif, padahal justru di sinilah letak elemen meaningful dan mindful dari pembelajaran mendalam.

4. Kegiatan inti tidak benar-benar mencerminkan tiga tahap pengalaman belajar. Sering ditemukan modul yang menuliskan label “Memahami”, “Mengaplikasi”, “Merefleksi” tetapi isinya tetap berupa ceramah satu arah dari awal sampai akhir. Label tanpa perubahan metode pembelajaran tidak memberi dampak apa pun bagi siswa.

5. Asesmen hanya dirancang di akhir, tanpa asesmen diagnostik di awal. Tanpa data awal tentang kesiapan siswa, Modul Ajar berisiko dirancang untuk siswa “rata-rata” yang sebenarnya tidak ada di kelas mana pun. Panduan menyusun asesmen ini bisa Anda baca di Cara Membuat Asesmen Diagnostik Non-Kognitif di Awal Semester.


Kesimpulan

Menyusun Modul Ajar dan ATP untuk Tahun Ajaran 2026/2027 menuntut lebih dari sekadar mengisi format administratif. Dengan berakhirnya masa transisi Kurikulum Merdeka di tahun ini, setiap satuan pendidikan dituntut menyusun dokumen yang benar-benar runut secara logika belajar — mulai dari CP yang sudah diperbarui, diturunkan menjadi TP yang terukur, dirangkai menjadi ATP yang masuk akal secara kognitif, hingga diwujudkan dalam Modul Ajar yang sungguh-sungguh mencerminkan prinsip mindful, meaningful, dan joyful.

Anggaplah proses ini sebagai investasi di awal tahun ajaran, bukan beban administratif yang harus segera dilewati. ATP dan Modul Ajar yang disusun dengan benar di bulan Juni–Juli akan menghemat berjam-jam kebingungan Anda setiap minggu sepanjang semester berjalan.



Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)


1. Apa perbedaan utama antara ATP dan Modul Ajar? ATP adalah peta jalan satu fase penuh berisi urutan Tujuan Pembelajaran, sedangkan Modul Ajar adalah rencana operasional untuk satu atau beberapa pertemuan yang mengacu pada urutan di dalam ATP. ATP menjawab “apa yang dipelajari dan dalam urutan apa”, Modul Ajar menjawab “bagaimana hal itu diajarkan di kelas”.

2. Apakah ATP harus dibuat ulang setiap tahun ajaran? Tidak harus dari nol, tetapi wajib direview. Jika ada pembaruan CP dari Kepala BSKAP untuk fase yang Anda ampu, ATP wajib disesuaikan. Jika CP tidak berubah, ATP lama masih bisa dipakai dengan penyesuaian kecil pada distribusi waktu sesuai kalender akademik baru.

3. Berapa lama waktu yang realistis untuk menyusun ATP satu mata pelajaran satu fase? Untuk guru yang sudah terbiasa, penyusunan ATP satu fase biasanya membutuhkan 1–2 hari kerja fokus. Bagi guru yang baru pertama kali menyusun dari CP terbaru, alokasikan waktu lebih panjang, sekitar 3–5 hari kerja, terutama untuk proses validasi bersama rekan sejawat.

4. Apakah Modul Ajar wajib mencantumkan label “Memahami, Mengaplikasi, Merefleksi” secara eksplisit? Tidak ada kewajiban format baku secara nasional, namun mencantumkan ketiga tahap ini secara eksplisit membantu guru — dan kepala sekolah saat supervisi — memastikan bahwa kegiatan inti benar-benar mencerminkan pengalaman belajar mendalam, bukan sekadar ceramah satu arah yang diberi label baru.

5. Di mana bisa mendapatkan contoh CP dan ATP resmi sebagai rujukan? Rujukan resmi tersedia melalui Platform Merdeka Mengajar (PMM) di guru.kemdikbud.go.id menggunakan akun belajar.id. Pastikan selalu mengecek versi CP terbaru sesuai Keputusan Kepala BSKAP yang berlaku untuk kelas yang Anda ampu, karena dokumen ini dapat diperbarui dari waktu ke waktu.


Artikel ini diterbitkan oleh Dea Learning Center 

Capaian Pembelajaran (CP) pada PAUD (TK/RA/KB/Sederajat)

CAPAIAN PEMBELAJARAN FASE FONDASI DI AKHIR SATUAN PENDIDIKAN ANAK USIA DINI (TAMAN KANAK-KANAK, RAUDHATUL ATHFAL, KELOMPOK BERMAIN, TAMAN PE...