Kamis, 02 Januari 2014

Keimanan dan Keyakinan


Bismillahirahmanirrahiim. Allahumma salli’ala Muhammad, allahumma salli’ala Muhammad, allahumma salli’ala Muhammad.

Judulnya berat, tapi insyaAllah penulisannya diupayakan untuk tidak melenceng jauh dari maksud judul tersebut di atas. Dan semoga Allah Yang Maha Menggenggam segala sesuatu, baik yang terlihat maupun tidak terlihat, membimbing jari-jemari hambaNya yang ada keinginan untuk menulis ini untuk menuliskan hal yang sesuai dengan rahmat dan ridhoNya. Amin.

Belajar dari tempat kajian yang pernah rutin maupun tidak rutin diikuti dan dari buku-buku ilmu keislaman yang dibaca, memunculkan kesimpulan bahwa keimanan dan keyakinan adalah membuncahkan di dalam hati kita akan kebesaran Allah swt. Menjiwai kalimat laa illaaha illallah, bahwa Allah Swt lah Yang Maha Besar dan Yang Maha Berkehendak atas segala sesuatu. Maka jika kita sudah mampu mengimani kebesaran Allah ini, semua hal selainNya, kecil. Sehingga apapun yang kita fikir dan lakukan kita yakin bahwa itu adalah seijin dan sekehendakNya. Yang terlihat maupun tidak terlihat. Untuk membuat sesuatu, Allah Swt tidak memerlukan pertolongan makhluk. Sedangkan kita sebagai makhluk Allah Swt akan pasti memerlukan pertolongan pada tiap hal yang akan kita lakukan. Bantuan dari Allah melalui sesama makhluk yang terlihat maupun dari yang tidak terlihat. Itu pasti.

Belajar yakin bahwa jika sakit yang menyembuhkan adalah Allah bukan dokter atau obat. Yakinkan bahwa hujan itu turun bukan karena musim tapi karena kehendak dan ijin Allah swt. Yakinkan, bahwa rizki datang itu bukan karena kita punya gaji, tapi karena sudah ketetapan Allah kita diberi asbab memiliki pekerjaan sehingga memiliki gaji. Mudah bagi Allah untuk membolak-balikkan semua nasib makhlukNya. Manusia hidup berdasarkan rizki yang ditetapkan Allah, apabila jatah rizki sudah habis maka habis pula jatah bernafas kita di dunia, alias dikubur.

Kemudian apabila kita mulai faham mengenai kebesaran Allah Swt, maka kita cek dalam diri kita, ke dalam hati kita sudah benar belum pemahanan itu terpatri. Keseharian kita sudah belum karena dan untuk Allah Swt?. Apakah shalat kita sudah karena Allah Swt, bukan hanya karena itu kewajiban, bukan juga karena malu dilihat makhluk lain tidak terlihat sholeh karena tidak shalat atau jika shalat kita tidak terlihat baik. Serta tidak lagi dalam shalat-shalat kita terganggu dengan hal-hal lain yang manari-nari dalam fikiran kita bahkan saat setelah takbir pertama? Sudah belum kita menutup aurat sebagaimana kita menutup aurat dalam shalat? Sudah belum kita tawadhu sebagaimana kita berusaha tawadhu dalam shalat, atau sudah belum kita mengagungkan Allah Swt sebagaimana kita lakukan itu dalam shalat? Atau sudah belum kita sadar sesadarnya bahwa shalat adalah waktu kita untuk menghadap Allah Swt, bahwa yang artinya Allah Swt ada dihadapan kita? Sudahkah kita merasa diperhatikanNya?

Secara keduniawian, sudahkah kita mencari rizki karena Allah? Sehingga pada saat kita sibuk bekerja kita tetap tidak lalai dengan perintah-perintahNya. Pada saat kita muamallah apapun bentuknya kita tidak bersenggolan dengan laranganNya. Sesibuk apapun kita, shalat tetap di awal waktu, shalat di masjid bagi yang laki-laki, dzikir sesudah shalat maupun saat bekerja, mengiringi kegiatan kita dengan mengingat yang diperintahkanNya dan yang dicontohkan RasulNya.

Dengan demikian, jika kita mampu menjalankan tugas kita sebagaimana sedikit penjabaran diatas, maka Allah Swt akan mematrikan sifat-sifat yang mulia pada diri kita. Sifat-sifat yang dicontohkan Rasulullah saw. Meninggikan derajat ketaqwaan kita. Kemudian memancarkan sifat itu keluar dari diri kita untuk menebar pada lingkungan sekitar dan orang-orang yang ada di sekeliling kita. Sehingga mudah berkasih-sayang dengan sesama umat maupun antar umat, menghormati yang lebih tua dan menyanyangi yang muda, serta tidak mudah terpancing emosi. Sehingga tercapailah kedamaian dan maksud bahwa Islam adalah rahmatan lil’alamiin.

Kita diwajibkan untuk belajar atau menuntut ilmu sebagaimana sabda Rasulullah saw; “Mununtut ilmu adalah wajib bagi setiap muslim lelaki dan muslim wanita”. Mari kita belajar, mengutamakan belajar ilmu tentang hakekat keimanan dan keyakinan ini, sebelum ilmu-ilmu  yang lain. Bersihkan niat belajar kita karena Allah Swt, pada saat belajar mengingat bahwa Allah Swt lah yang berkehendak minitikkan ilmu yang kita pelajari itu terpatri dalam diri kita. Sehingga pada saat ilmu sudah sampai dalam diri kita, maka kitapun akan tetap ingat untuk mengamalkannya karena Allah Swt.

Demikian insyaAllah, semoga bermanfaat. Dan semoga Allah Swt menjadikan hambaNya yang masih sedikit belajar ini bagian dari hamba-hamba Allah Swt yang dimampukan untuk menuntut ilmu Allah Swt lebih luas lagi. Amin.

Wallahu a’alam bissawab.

Oh Tuhanku, Kau pimpinlah diri ini yang mendamba cintaMu
Aku lemah, aku jahil tanpa pimpinan dariMu
Kau pengasih Kau penyayang Kau pengampun
Kepada hamba-hambaMu
Selangkahku kepadaMu seribu langkah Kau padaku.
Tuhan diri ini tidak layak ke surgaMu
Tapi tidak pula aku sanggup ke nerakaMu
(Raihan)

Amalmeter Menjemput Jodoh



Bismillahirahmanirrahiim. Allahumma salli’ala sayyidina Muhammad…

Lika-liku kehidupan manusia akhir jaman ini sangat banyak macam dan runyamnya. Jauh lebih tenang kehidupan jaman dahulu, jaman nenek moyang. Jika diperhatikan, gaya hidup lebih tenang dan tentram dengan kesederhanaannya. Sehingga tidak banyak masalah yang terlalu vulgar dijadikan bahan obrolan.

Salah satu gaya hidup jaman sekarang yang membuat runyam tatanan kehidupan, terutama dari sisi keislaman, adalah meningkatnya lajang-lajang yang memperpanjang waktu lajang, alias tidak menyegerakan menikah. Padahal ini perintah Allah swt, padahal ini sunnah Rasulullah saw. Kehidupan yang terlalu mengikuti tren dan nafsu telah mengubah pola pikir, telah mengikis pelan-pelan gaya hidup islami. Sehingga berpakaian malu yang islami, keseharian malu yang islami, dan cara menutup masa lajang atau menikah juga malu dengan cara islami, alias menyegerakannya.

Bagi yang berusaha tetap islami, sebagian akhirnya kesulitan menjemput jodoh karena lingkungannya tidak mendukung. Tapi mudah-mudahan ini tidak memupuskan perjuangan, hingga Allah mempertemukan dengan jodoh terbaik yang Allah pilihkan. Penuhi keseharian dengan amalan-amalan baik yang mendukung upaya menjemput jodoh, diantara amalan yang harus diikhtiarkan ;

1.     Niat
Hal yang paling utama harus dimiliki adalah niat yang kuat untuk menjemput jodoh. Niatkan menikah karena Allah, niatkan menikah karena sunnah Rasulullah. Segala sesuatu yang diniatkan karena Allah, insyaAllah berkah. Sehingga tidak ada penyesalan hari kemudian. Buat target khusus kapan kira-kira harus sudah menikah. Bila perlu tuliskan targetnya pada secarik kertas dan tempel ditempat yang mudah dibaca. Sehingga mudah untuk memperbaiki niat bila sudah agak melenceng dari niat awal.

2.    Ikhtiar
Gumamkan dalam hati pada setiap langkah kita adalah berniat memjemput jodoh yang sudah Allah persiapkan, jodoh yang sudah Allah tetapkan yang terbaik, yang nantinya mampu saling mengisi kekurangan dan kelebihan satu sama lain. Langkahkan kaki kita ke tempat-tempat yang baik. Jangan mencoba untuk melangkahkan kaki ke tempat yang Allah tidak sukai jika sedang memiliki niat ini. Karena laki-laki yang baik adalah untuk wanita yang baik, dan laki-laki yang buruk adalah untuk wanita yang buruk. Dari sisi akhlak tentunya. Perbaiki diri kita, jika ingin mendapatkan yang baik. Perbagus iman kita jika ingin mendapatkan pasangan yang memiliki iman yang bagus.

3.    Do’a
Setiap ikhtiar wajib diiringi dengan doa. Karena Allah yang maha menetapkan segala sesuatu, maka kita sandarkan ikhtiar kita dengan penuh pengharapan agar terkabul dan Allah mudahkan segala urusannya. Upayakan untuk bermunajat setiap malam dengan memohon kepada Allah agar Allah pertemukan dengan jodoh yang baik. Baik untuk kehidupan pribadi, baik untuk kehidupan berkeluarga dan baik untuk agama. 

4.    Ta’aruf
Jika setelah ikhtiar dan berdoa kemudian Allah pertemukan atau dekatkan dengan seseorang, maka ta’aruflah atau berkenalanlah dengan cara yang baik. Hindari berkhalwat atau bertemu hanya berdua saja tanpa ada orang lain yang menemani. Jaga adab-adab berkenalan yang baik.

5.    Istikharah
Amalan terakhir agar mendapatkan pilihan yang terbaik adalah istikharah. Karena kata Nabi saw; “Tidak merugi orang yang musyawarah, tidak menyesal orang yang istikharah”. Dengan istikharah artinya kita menambatkan semua keputusan dan pilihan kepada Allah swt. Berjodoh atau tidak berjodoh adalah ketetapan Allah. Jika secara nafsu hati kita sudah ada kecenderungan suka, tapi takdir Allah bukan yang terbaik, maka pasti kita akan dijauhkan dari hal yang nafsu kita anggap baik itu. Caranya bisa dari hati kita sendiri, kecenderungannya Allah kurangi. Atau dari teman kita yang berpendapat lain. Atau Allah pertemukan dengan yang lebih cakep misalnya. Atau dari keluarga kita yang tidak setuju. Semua itu cara Allah memberikan jawaban istikharah kita, bahwa dia bukan jodoh yang baik. Namun jika baik menurut Allah, maka Allah tambahkan kecenderungan hati kita dan Allah mudahkan segala urusannya.

Selalulah tambatkan hati kita kepada Allah swt untuk segala urusan yang kita hadapi. Kita ini kecil dan tidak tahu apa-apa. Allah Maha Mengetahui dan Maha Melihat segala sesuatu baik yang terang-terangan maupun yang tersembunyi.

Sabtu, 16 November 2013

WHATSAPP UNTUK PC/LAPTOP/NETBOOK

http://www.alkalinware.com/2013/07/whatsapp-untuk-pclaptopnetbook.html
Mungkin sudah banyak yang tau kegunaan dari applikasi ini yaitu hampir menyerupai BBM(Blackberry Messenger) yang bisa menampilkan foto kita, juga bisa saling chatting dengan teman-teman kita namun bedanya BBM hanya bisa di jalankan di sistem operasi Blackberry saja sedangkan WhatsApp bisa di gunakan di banyak perangkat seperti PC,Smart phone,Windows Mobile,tablet,iphone,Android.

Blackberry dalam meng-Add teman kita membutuhkan PIN Blackberry sedangkan WhatsApp kita hanya membutuhkan kontak HP saja untuk


Add teman.Berikut cara install WhatsApp di komputer:

Langkah pertama Anda harus DOWNLOAD EMULATOR ANDROID dan
DOWNLOAD WHATSAPP.APK copy dan paste file whatsapp yang sudah di download tadi ke C:\Documents and Settings\Nama Profile Anda\youwave\android apps.Kemudian buka apllikasi Emulator Android tadi dan tunggu beberapa saat.

http://www.alkalinware.com/2013/07/whatsapp-untuk-pclaptopnetbook.html

http://www.alkalinware.com/2013/07/whatsapp-untuk-pclaptopnetbook.html

http://www.alkalinware.com/2013/07/whatsapp-untuk-pclaptopnetbook.html
ikuti terus langkah-langkahnya sampai selesai.Semoga bermanfaat!.

Copas dr www.alkaliware.com

Kamis, 22 September 2011

Tips Merapikan Posting pada Blog

Merapikan posting?? Perlu juga lho… Karena dengan postingan yang rapi akan semakin menarik pengunjung untuk membaca artikel yang kita posting tersebut… Sebaliknya bila artikel yang kita posting tersebut tidak rapi, orang akan malas untuk membaca artikel tersebut.

Mungkin sebenarnya sudah banyak yang mengetahui tentang cara merapikan posting berikut. Tapi mungkin juga ada yang masih belum mengetahuinya. Dan tulisan tentang merapikan posting berikut hanyalah sekedar sharing tentang apa yang ana ketahui karena ana sendiri sebenarnya tidak ahli dalam hal ini. Mudah-mudahan tulisan ini bisa bermanfaat untuk merapikan blog ikhwan wa akhwat fillah terutama yang menggunakan wordpress.

Merapikan Posting

1. Paste Tulisan dari Word

Kadang ketika kita mem-paste tulisan yang sudah diedit di Word, ternyata setelah tampil hasilnya jadi berantakan. Cara supaya hasil yang di-paste tidak berantakan adalah dengan paste melalui tombol “paste from word” (berlogo W) seperti pada gambar berikut :

Tekan tombolnya, lalu paste seluruh isi artikel dalam form yang tersedia :

Tekan insert dan tulisan pun akan ter-paste sesuai dengan format tulisan sesuai CSS theme-nya.

Sebuah theme biasanya sudah memiliki CSS nya masing-masing yang dianggap bagus dan matching oleh si pembuat theme yang akan menjadi format standard untuk jenis, ukuran, warna tulisan, tata letak theme, dll. Untuk blog di wordpress.com gratisan CSS sampai saat ini belum bisa diedit karena kebijakan dari wordpress.com, tapi untuk yang menggunakan self-hosting (gratisan ataupun berbayar) CSS tersebut bisa diedit. Tapi ana tidak akan membahas masalah CSS ini, yang akan ana bahas adalah memposting tulisan agar sesuai dengan CSS tersebut sehingga tampilannya mudah-mudahan akan lebih rapi dan tulisannya jadi seragam antara posting yg satu dgn yg lainnya.

2. Potong tulisan yg panjang di halaman utama

Gunakan tag <–more–> untuk memotong tulisan yang panjang sehingga yang ditampilkan di halaman utamanya (home/beranda) cukup beberapa bagian awalnya saja. Caranya tempatkan cursor di bagian yang akan dipotong, lalu klik tombol <–more–> :

Di blog ini tag dipasang supaya tulisan tidak melebihi ukuran layar, supaya kelihatan lebih teratur dan memudahkan srcoll-down untuk melihat artikel lainnya. Hasilnya seperti ini:

3. Cara Merapikan Tulisan Arab

Hasil copy-paste tulisan Arab biasanya hasilnya akan seperti :

وَلْيَسْتَعْفِفِ الَّذِيْنَ لاَ يَجِدُوْنَ نِكَاحًا حَتَّى يُغْنِيَهُمُ اللهُ مِنْ فَضْلِهِ

Cara merapikannya adalah buka kode HTML nya dengan klik tab berikut :

lalu cari tulisan arab yang mau di edit, kemudian tuliskan kode berikut sebelum tulisan Arab itu :

Sehingga menjadi :

Hasil visualnya:

وَلْيَسْتَعْفِفِ الَّذِيْنَ لاَ يَجِدُوْنَ نِكَاحًا حَتَّى يُغْنِيَهُمُ اللهُ مِنْ فَضْلِهِ

Ukuran, spasi & jenis font yang ana beri warna merah bisa diubah pada sesuai yang antum mau.

Untuk tulisan yang lebih besar bisa pake kode berikut :

Hasilnya :

وَلْيَسْتَعْفِفِ الَّذِيْنَ لاَ يَجِدُوْنَ نِكَاحًا حَتَّى يُغْنِيَهُمُ اللهُ مِنْ فَضْلِهِ

Jika tulisan Arab lebih dari satu paragraph, lebih baik pake kode ini:

Jangan lupa untuk menutup div nya dengan

.

4. Menampilkan Gambar

Setelah merapikan tulisan, ada baiknya jika kita menghiasnya dengan memasukkan gambar supaya tulisan tersebut lebih menarik untuk dibaca. Bagian ini kelihatannya sudah banyak yang tau, jadi singkat saja… Pilih & Upload gambar dengan klik tombol :

Lalu pilih & upload gambar :

Selanjutnya lakukan edit / update alignment, border & space. Dan jadilah hasilnya :

5. Cara Membuat Footnote

Jika dalam tulisan ada footnotenya, maka bisa menggunakan kode ANCHORNAME berikut ini dalam kode HTML nya:

Ubah kata-kata nomor footnote pada kode di atas dengan angka atau nama sesuka antum. Letakkan kode di atas di bagian footnote (bawah). Misalnya footnote nomor 1 :

Dan jika sukses biasanya di mode visualnya akan terlihat gambar jangkar di kiri footnote tersebut. Untuk nomor footnote di bagian isi artikelnya bisa menggunakan link artikel ditambah /#nomor footnote, contoh :

http://ummushilah.0fees.net/wordpress/?p=451/#1

Penerapannya seperti ini :

Kalau mau dibuat supaya nomor di footnote jika di klik bisa balik ke tempat semula, bisa dgn cara menambahkan anchor-nya di nomor footnote dalam artikel dan menambah link ke situ di footnotenya. Njelimet ya?

Begini contohnya : Kita buat nama anchor untuk nomor footnote di dalam artikel, misalnya h1, dan tambahkan juga link untuk menuju ke footnote yang kita beri nama f1. Ini kodenya :

Dan kode untuk nomor footnote kita beri nama f1 dan me-link ke h1 :

Kalau sukses biasanya di mode visualnya ada tanda jangkarnya.

Silahkan mencoba…. Contoh artikel yang sudah jadi bisa dilihat di link : http://ummushilah.0fees.net/wordpress/?p=451

bagi yang menggunakan mesin wordpress di hosting sendiri, cara yg lebih praktis bisa menggunakan plugin wp-footnote. Dan cara memakainya bisa di baca di [link ini].

Demikian sedikit yang bisa ana share, semoga bermanfa’at…. Seandainya ada yg tau cara yg lebih praktis, monggoh di share…


Copas dari: http://ummushofi.wordpress.com/2009/12/23/tips-merapikan-posting-pada-blog-wordpress/

Selasa, 20 September 2011

Wahai Saudari Muslimahku...

Buatku muslimah ya muslimah, tidak bisa dicampur dengan atribut ini dan itu tapi tetap mengaku muslimah. Hadeeh... keras kepala sekali aku ini.

Coba jawab, kalau aku tanyakan padamu kawan, siapa sich muslimah itu? bisa kah kau sebutkan cirinya??

Jawaban pribadiku, muslimah adalah wanita sholehah atau sedang belajar untuk menjadi sholehah yang berpakaian sopan, panjang, tidak ketat melekat lekuk tubuh dan berkerudung atau jilbab. Bicaranya halus, lembut dan menjaga pandangan.

What yours?

Pandanganku aku sandarkan padaMu ya Allah, sehingga mungkin karena ini pula Engkau tuangkan keresahan yang sangat dalam jiwa hamba akan ketidak sesuaian tampilan saudari-saudari muslimahku saat ini dengan jawabanku di atas. Aku galau, aku seddiih... saudari-saudari muslimahku berpakaian tapi seperti telanjang. MasyaAllah.... tidakkah mereka takut azabMu ya Robb, tidakkah mereka sadar bahwa mereka sedang menjerumuskan diri mereka sendiri kepada kemurkaanMu. Apa dayaku ya Robbii...

Hati ini semakin sakit saat kulihat saudari muslimahku berdandan rapih, berpakaian muslimah dengan kerudung yang cantik, tapi mengenakan bawahan legging -celana panjang sangat ketaaaat sekali di kaki-kaki mereka, yang seharusnya celana panjang ini digunakan sebagai pakaian dalam, Allahu akbar.

Ya Allah, upaya hamba untuk menjadi muslimah yang baik pun belum sesempurna yang Engkau harapkan, namun tetapkanlah penjagaanMu atas upayaku ini dunia akhirat. Pilihlah hamba sebagai salah satu umat Muhammad yang terbaik, jauhkan hamba dari mengikuti nafsu dunia yang menimpa saudari-saudariku saat ini. Amin.

Tuhan

*Akmal Sjafril ST, MPdI

Sep 13, '11 12:21 PM

assalaamu'alaikum wr. wb.

Ketika menjelaskan tentang bukti-bukti keberadaan Tuhan, Buya Hamka tidak
merasa perlu berpanjang-panjang dalam penjelasannya, padahal beliau dikenal
sebagai ulama-sastrawan yang piawai merangkai kata. Menurutnya, keberadaan
Tuhan itu terlalu mudah untuk dipahami oleh manusia, siapa pun dia, sehingga
tak perlu dibuktikan kembali. Apa yang sudah terang tak perlu
diterang-terangkan lagi. Pengakuan akan keberadaan Tuhan adalah suatu hal
yang sudah terintegrasi dalam jiwa manusia. Yang jadi masalah justru jika
manusia ngotot hendak meng-uninstall program yang sudah dipasang sejak
dahulu kala dalam dirinya (QS Al A’raf: 172).

Dari sekian banyak manusia keras kepala yang mengingkari dirinya sendiri
ini, tidak ada satu pun yang berhasil sepenuhnya. Ustadz Rahmat Abdullah
rahimahullaah pernah menceritakan tentang seorang mahasiswa yang sepenuh
hatinya merasa bangga dengan ateisme yang dijadikannya sebagai prinsip
hidup. Tuhan itu tak berwujud, katanya. Tuhan itu hanya ada dalam khayal
manusia, katanya. Tapi dalam sebuah demonstrasi menuntut reformasi, ketika
peluru berdesingan di atas kepalanya, ia tiarap juga sambil berteriak, “Ya
Tuhan!” Ternyata pengakuan terhadap Tuhan belum berhasil ia buang dalam
recycle bin hatinya.

Pada akhirnya, kematian adalah pembuktian yang paling nyata. Biarpun sudah
menolak Tuhan dengan berapi-api dan mengklaim bahwa hidupnya adalah miliknya
sendiri, toh akhirnya semua manusia menemui ajal juga. Suka tidak suka,
semua akan mengalaminya. Boleh seenaknya di dunia, tapi akhirnya diseret
juga ke akhirat.

Pasti ada juga yang menolak argumen ini. Kematian hanya membuktikan bahwa
masa hidup manusia telah habis. Tak ada bukti jiwa manusia pergi ke suatu
alam yang lain dengan alam dunia ini. Tak ada bukti bahwa Tuhan itu ada.
Setelah hidup hanya ada kematian, dan di seberang kematian hanya ada
ketiadaan.

Penyangkalan (denial) semacam ini tidaklah melukai siapa pun selain dirinya
sendiri. Berusaha meng-uninstall program yang menjadi pondasi dari jiwa kita
ibarat tanaman yang mencabut akarnya sendiri. Tak bisa membuang programnya,
maka jiwanya sendirilah yang dicampakkan.

Tidak seorang pun manusia yang sungguh-sungguh percaya bahwa Tuhan itu tidak
ada. Tidak Nietzsche (“God is dead”), tidak Karl Marx (“Religion is opium
for the people”), tidak juga Fir’aun (“Aku tidak mengetahui tuhan bagimu
selain aku.”). Ketika ombak hampir menelan tubuhnya, Fir’aun pada akhirnya
dipaksa mengaku juga bahwa ia hanyalah tulang, darah, daging, kulit, dan
rambut. Sayangnya, penyesalan selalu datang terlambat. Meski sudah ke
mana-mana mendakwakan bahwa Tuhan telah mati, pada akhirnya Nietzsche juga
yang mati. Marx, yang punya ‘misi suci’ membebaskan umat manusia dari
‘opium’ yang membelenggu hidup mereka, pada akhirnya mati juga, sementara
mereka yang beriman tetap saja beriman. Merekalah contoh manusia yang gagal
menulis ulang program dirinya, karena sejak awal mereka memang tidak
mengenal kode program yang sesuai.

Tidak ada seorang manusia pun yang sungguh-sungguh beriman akan ketiadaan.
Pada hakikatnya semua manusia diciptakan dengan ego yang pasti akan menolak
klaim bahwa dirinya tidak lebih daripada seekor hewan yang hidup tanpa
tujuan pasti selain makan, berkembang biak dan bertahan hidup. Tak ada juga
manusia yang mau menyamakan dirinya dengan benda mati yang tercipta dan
hancur tanpa konsekuensi bagi dirinya sendiri. Kematianlah yang memberi
makna pada kehidupan, dan kehidupan sesudah matilah yang memberi makna pada
kematian.

Mereka yang percaya bahwa kematian itu ada, tapi kehidupan sesudah mati itu
tidak ada, akan menjalani kehidupan dengan cara yang berbeda dengan kaum
yang beriman. Jika kehidupan di dunia ini adalah satu-satunya yang mereka
miliki, amboi betapa kacaunya dunia ini. Tak ada kebaikan, tak ada kemurahan
hati, tak ada yang saling menolong, tak ada yang saling mendahulukan, dan
tak ada yang saling mencintai. Semua orang hidup untuk dirinya
sendiri-sendiri, memenuhi syahwat perut dan kelaminnya. Mereka memandang
orang lain sebagai alat untuk memenuhi kebutuhannya sendiri; jika tak lagi
berguna, maka siapa pun bisa disingkirkan. Demikianlah peradaban manusia
yang ‘tanpa tuhan’.

Dalam peradaban paling biadab sekalipun, iman kepada Tuhan dan kehidupan
akhirat masih tetap ada. Itulah yang menjaga manusia dari perilaku keji dan
haus darah. Jika Allah subhanahu wa ta’ala tidak meng-install program yang
terkoneksi langsung dengan-Nya dalam diri kita (dan juga menciptakan program
lain yang mencegah siapa pun untuk meng-uninstall-nya), maka manusia sudah
sejak dulu punah karena saling bunuh. Sementara binatang yang hanya punya
syahwat tanpa akal saja jika terjepit bisa menjadi kanibal, apalagi manusia
yang bukan hanya punya syahwat, tapi juga punya akal. Hewan buas yang
kanibal hanya akan memangsa sesuai kapasitas lambungnya, sementara manusia
yang ‘kanibal’ akan menciptakan kulkas untuk menyimpan korban-korbannya
dalam jumlah banyak dan museum untuk memamerkan tulang-belulangnya.

Benarlah apa yang dikatakan oleh Buya Hamka. Beriman kepada Allah itu adalah
hal yang terlalu terang untuk diterang-terangkan. Justru penolakan
terhadap-Nya itulah yang begitu rumit untuk dijelaskan. Itulah sebabnya
mereka yang keras kepala menolak Allah disebut “kafir” yang artinya
“ingkar”. Mereka tak dapat mengubah kenyataan, melainkan hanya
mengingkarinya saja.

wassalaamu'alaikum wr. wb.

Artikel ini telah dimuat di situs Fimadani http://www.fimadani.com/tuhan/.

Ghirah menurut Buya HAMKA

*Ghirah*

*Akmal Sjafril*

assalaamu'alaikum wr. wb.

Dahulu, Buya Hamka menjelaskan ghirah dengan suatu istilah yang sederhana:
cemburu. Ghirah adalah kecemburuan dalam beragama. Cemburu itu bukan sekedar
marah atau kesal atau jengkel, melainkan perasaan tidak rela karena haknya
direnggut dan berhasrat besar untuk merebut haknya kembali. Kalau tak ingin
merebut kembali, bukan cemburu namanya. Itulah sebabnya orang bilang cemburu
adalah tanda cinta, dan tidak ada cinta tanpa rasa cemburu. Nah, yang
disebut ghirah itulah perasaan memiliki / mencintai agama secara mendalam
yang kemudian terwujud dalam pembelaan yang kuat ketika agamanya dihinakan
orang.

Buya Hamka mengambil sebuah perspektif yang menarik ketika bercerita tentang
ghirah. Sementara pada masanya orang banyak mengelu-elukan Mahatma Gandhi,
beliau justru mengingatkan semua orang bahwa Gandhi adalah tokoh yang anti
Islam, dan kita sebagai Muslim tidak sepatutnya melupakan hal itu.

Dalam tulisan-tulisan atau ucapan-ucapannya, Gandhi senantiasa menampilkan
sosok yang bersahaja, santun dan toleran, bahkan kontradiktif dalam beberapa
hal. Sebagai contoh, ia mengatakan bahwa ia menghormati semua agama
sebagaimana agamanya sendiri, walaupun ia merasa bahwa agamanyalah yang
paling tinggi. Di tempat lain, ia mengatakan bahwa di atas agama-agama ada
pula ‘Agama’ (dengan ‘A’ besar) yang mengatasi semua agama itu, yang
bersemayam di hati seluruh manusia, apa pun agama formalnya. Kali lain, ia
berkata pula bahwa semua agama itu benar, dan semua agama itu juga salah.

Kontradiksi Gandhi dalam menyikapi agama-agama diberi catatan tersendiri
oleh Hamka. Di satu sisi, Gandhi selalu mengatakan bahwa semua agama
sama-sama mulia, sama-sama mengajarkan kebaikan, sama-sama mengantar kita ke
surga. Namun ketika orang-orang dekatnya memutuskan untuk memeluk agama
Islam, ia melakukan suatu hal yang dikenal luas sebagai ciri khasnya
sendiri: mogok makan! Sayangnya, sebagian dari orang-orang terdekatnya itu
tidak tega dan akhirnya kembali ke agama asalnya.

Meskipun muncul dalam sebuah prilaku yang hipokrit dari pribadi seorang
Gandhi, ghirah adalah suatu hal yang fitrah. Cemburu memang fitrah; semua
manusia merasakannya. Anak kecil pun akan menangis jika mainannya direnggut
paksa. Orang dewasa apalagi, karena mereka sudah menyelami seluk-beluk cinta
dalam hatinya sendiri.

Catatan lain yang diberikan oleh Buya Hamka seputar ghirah adalah betapa
ghirah ini menjadi suatu hal yang paling menakutkan bagi kaum penjajah
dahulu. Mereka terheran-heran menyaksikan bangsa yang cuma punya rencong
atau keris di tangan namun bisa tampil begitu gagah di hadapan bedil yang
terkokang hanya karena satu kalimat takbir. Mereka tidak habis pikir mengapa
masih ada saja bangsa yang siap mati bersimbah darah membela agamanya,
karena agama memang sudah sejak lama mati di Eropa.

Jangankan soal agama, soal perempuan saja umat Islam itu begitu besar rasa
cemburunya. Pernah ada seorang perempuan yang diam-diam dipacari oleh lawan
jenisnya. Pada masa itu, berpacaran dengan perempuan, apalagi backstreet,
adalah penghinaan yang serius terhadap keluarganya. Kakak lelakinya pun
bertindak membela kehormatan keluarga. Ditikamlah lelaki tak berbudi tadi,
matilah dia.

Sudah barang tentu, hukum sekuler yang diterapkan oleh pemerintah kolonial
Belanda pada masa itu mengharuskan sang kakak lelaki menjalani
bertahun-tahun hukuman di penjara. Dalam logika kaum sekuler, habislah sudah
keluarga itu; anak perempuannya terhina, anak lelakinya dipenjara. Apa
dinyana, setelah belasan tahun dipenjara, ia malah dijemput oleh seluruh
keluarga dan sanak saudaranya layaknya rombongan yang mengantar jemaah pergi
berhaji. Shalawat dialunkan, tangis haru berderai, ia disambut bagai
pahlawan. Tidak peduli apa kata Belanda; di mata keluarganya, sang pemuda
adalah pembela kehormatan mereka.

Menghadapi bangsa yang ghirah-nya menyala hebat adalah persoalan yang runyam
buat Belanda. Ingat Bandung Lautan Api? Banyak orang hanya ingat lagunya,
namun kurang menghayati sedahsyat apa kejadian itu sebenarnya. Bukan 1-2
bangunan dibakar, melainkan hampir seisi kota. Jika Bandung dibakar sebagai
bagian dari teror penjajah terhadap rakyat, maka akal kita masih bisa
mencernanya dengan mudah. Namun sebenarnya kota itu justru dibakar oleh
warganya sendiri. Apa sebab? Karena lebih baik dibumihanguskan daripada
dinikmati tuan-tuan penjajah!

Betapa runyam urusan kaum Zionis di tanah Palestina, lantaran putri-putri
Al-Quds memiliki ghirah yang sangat tinggi. Lebih baik mati semua daripada
Masjidil Aqsha dinistakan. Lebih baik suami pulang menjadi mayat daripada
harus mengalah pada bangsa penjahat. Ada ibu yang dikaruniai keturunan yang
banyak, namun satu persatu menjemput syahid, dan itulah hal yang membuatnya
tetap hidup dengan kepala tegak penuh kebanggaan; rahimnya telah melahirkan
para penghuni surga!

Sebagai bagian dari strategi penjajahan, umat Islam di mana-mana ditekan
agar tidak pernah mengobarkan ghirah-nya lagi. Jangan pernah marah lagi jika
agamanya dihina. Jangan pernah cemburu lagi jika kehormatannya direnggut.
Karikatur Rasulullah saw dibuat dengan nuansa penghinaan yang begitu kental,
dan kita tidak boleh marah. Jika Yesus saja sudah dijadikan komoditi humor,
mengapa Muhammad saw tidak boleh? Mereka mengharapkan umat Islam akan
kehilangan ghirah sebagaimana mereka telah kehilangan ghirah-nya
berabad-abad yang lampau. Mereka ingin umat Islam tidak lagi cinta pada
agamanya sendiri, sebagaimana mereka sendiri telah mencampakkan rasa cinta
pada agamanya entah berapa abad yang lalu.

wassalaamu'alaikum wr. wb.

Artikel ini telah dimuat di situs Fimadani, http://www.fimadani.com/ghirah.

Adab dan Do'a Ketika Melihat Orang Terkena Musibah

Diantara adab-adabnya: 1. Tidak menghina orang yang tertimpa musibah dan tidak menjadikannya bahan pembicaraan. Sabda Rasulullah saw:  _...